"Zero threshold itu jauh lebih demokratis karena tidak menghilangkan suara rakyat," tegas Adi saat dihubungi.
Dia tak sungkan menyebut ambang batas parlemen sebagai sesuatu yang "sangat zalim". Alasannya sederhana: banyak suara pemilih yang akhirnya terbuang percuma. Bayangkan saja, orang-orang yang memilih partai kecil tapi tak lolos ke parlemen suara mereka seperti menguap begitu saja.
"Padahal, orang yang pilih partai yang dinyatakan tak lolos parlemen itu juga rakyat, mereka punya aspirasi," katanya dengan nada prihatin.
Intinya, debat antara efisiensi pemerintahan dan representasi suara rakyat masih akan berlanjut. Di satu sisi ada keinginan untuk pemerintahan yang stabil dan mudah bergerak. Di sisi lain, ada prinsip dasar demokrasi bahwa setiap suara berharga dan punya tempat. Mana yang akan menang? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Suzuki Ungkap Penyebab Rem Motor Blong dan Langkah Antisipasi
DPRD DKI Dorong Penataan Koridor Rasuna Said Jadi Lebih Manusiawi Usai Tiang Monorel Dicopot
Indonesia Desak UE Segera Patuhi Putusan WTO Soal Diskriminasi Minyak Sawit
Kerangka Manusia Ditemukan Terdampar di Dermaga Sungai Musi, Polisi Selidiki