Tak cuma itu. Media Axios menulis bahwa jenderal tersebut memperingatkan kemungkinan AS terseret ke dalam konflik yang berlarut-larut. Menariknya, laporan itu juga menyebut utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, mendorong presiden untuk menunda serangan. Mereka memberi ruang bagi jalur diplomasi.
Tapi Trump punya jawaban untuk semua laporan itu. Ia menuduh media-media tersebut sengaja menulis berita yang salah. "Sayalah yang membuat keputusan," tegasnya.
"Saya lebih memilih ada kesepakatan daripada tidak, tetapi jika kita tidak mencapai kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu dan, sangat disayangkan, bagi rakyatnya."
Ancaman militer dari Trump ini bukan kali pertama. Tahun lalu, ia sudah memerintahkan serangan ke fasilitas nuklir Iran. Dan ancaman itu diulanginya lagi sekarang, terutama jika perundingan pengganti kesepakatan nuklir 2018 yang ia batalkan sendiri gagal total.
Di sisi lain, langkah militer AS sudah terlihat nyata. Washington diketahui telah mengerahkan kekuatan besar ke Timur Tengah. Dua kapal induk, lebih dari selusin kapal pendamping, puluhan pesawat tempur, dan berbagai aset militer lain sudah berada di kawasan itu.
Meski ketegangan makin terasa, pintu diplomasi ternyata belum sepenuhnya tertutup. Seorang pejabat AS menyebutkan, putaran perundingan berikutnya dengan Iran dijadwalkan berlangsung pada Kamis mendatang. Jadi, meski kata-kata perang sudah berhamburan, masih ada secercah harapan untuk dialog.
Artikel Terkait
Menteri Agus Andrianto Kembangkan Dapur Lapas dan Dorong Kemitraan dengan Pengusaha Lokal
KPK Jelaskan Alasan Jaksa Absen di Sidang Praperadilan Yaqut Cholil Qoumas
Banjir dan Longsor di Minas Gerais Tewaskan 20 Orang, Puluhan Hilang
Pria Pengaku Aparat Diamankan Usai Aniaya Petugas SPBU Cipinang