Joko Anwar Bongkar Metode Ekstrem Penyiapan Karakter untuk Film Hantu di dalam Penjara

- Senin, 23 Februari 2026 | 22:15 WIB
Joko Anwar Bongkar Metode Ekstrem Penyiapan Karakter untuk Film Hantu di dalam Penjara

Di sisi lain, ia melihat genre horor punya kekuatan khusus di Indonesia. Sebagai negara dengan ratusan kelompok etnis, horor dianggapnya sebagai budaya pop yang bisa menyatukan. "Yang bisa menyatukan itu sebagai shared pop culture yaitu horor. Jadi apakah efektif menyampaikan pesan? Efektif banget," tegasnya.

Meski banyak yang bilang filmnya penuh kritik sosial, Joko lebih nyaman menyebut karyanya sebagai refleksi. "Film Come And See selalu berangkat dari yang relevan di masyarakat, bukan kritik. Kritik itu kan jadinya datang kemudian... Sayang kalau hasil pekerjaan yang dikonsumsi banyak orang enggak diisi dengan sesuatu yang penting, seperti bersuara tentang ketidakadilan," tuturnya.

Setelah sukses dibahas di Festival Berlinale, apa rencana selanjutnya? Ternyata Joko sedang menggarap proyek romansa. Judulnya "The Charms of Broken Things" atau "Pesona Barang-Barang yang Sudah Pecah". "Lagi dikembangkan," ungkapnya.

Oh ya, soal judul filmnya yang pakai bahasa Inggris, "Ghost in the Cell", Joko bilang itu cuma soal selera. "Ada judul bahasa Indonesia-nya, Hantu di dalam Penjara. Orang Indonesia tahu ghost, orang tahu cell. Ghost in the Cell," tandasnya. Sederhana saja.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar