Di sisi lain, ia melihat genre horor punya kekuatan khusus di Indonesia. Sebagai negara dengan ratusan kelompok etnis, horor dianggapnya sebagai budaya pop yang bisa menyatukan. "Yang bisa menyatukan itu sebagai shared pop culture yaitu horor. Jadi apakah efektif menyampaikan pesan? Efektif banget," tegasnya.
Meski banyak yang bilang filmnya penuh kritik sosial, Joko lebih nyaman menyebut karyanya sebagai refleksi. "Film Come And See selalu berangkat dari yang relevan di masyarakat, bukan kritik. Kritik itu kan jadinya datang kemudian... Sayang kalau hasil pekerjaan yang dikonsumsi banyak orang enggak diisi dengan sesuatu yang penting, seperti bersuara tentang ketidakadilan," tuturnya.
Setelah sukses dibahas di Festival Berlinale, apa rencana selanjutnya? Ternyata Joko sedang menggarap proyek romansa. Judulnya "The Charms of Broken Things" atau "Pesona Barang-Barang yang Sudah Pecah". "Lagi dikembangkan," ungkapnya.
Oh ya, soal judul filmnya yang pakai bahasa Inggris, "Ghost in the Cell", Joko bilang itu cuma soal selera. "Ada judul bahasa Indonesia-nya, Hantu di dalam Penjara. Orang Indonesia tahu ghost, orang tahu cell. Ghost in the Cell," tandasnya. Sederhana saja.
Artikel Terkait
Lima Lembaga Intelijen yang Membentuk Peta Kekuatan Global
TAUD Ungkap Dugaan Serangan Terorganisir Melibatkan 16 Orang terhadap Andrie Yunus
Dolar AS Melemah Didorong Kabar Perundingan Damai Israel-Lebanon
Bentrok di Halmahera Tengah Dipicu Hoaks, Bukan Konflik SARA