(Foto EFE menunjukkan jemaah Muslim New York berbuka puasa bersama di Times Square sebelum salat Tarawih digelar.)
“Kami ingin dunia mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an,” ujar SQ. “Ketenangan hati tidak dibatasi oleh lokasi. Lingkungan terbaik justru ada di dalam diri manusia.”
Ia menambahkan, beribadah di tengah keramaian seperti ini adalah pengingat yang kuat. Bahwa semua tempat di bumi adalah milik Tuhan, tak terkecuali sepetak tanah di antara gedung-gedung pencakar langit Manhattan.
Acara yang diawali buka puasa bersama sejak pukul lima sore itu sukses menarik perhatian. Menurut laporan Associated Press, ribuan turis berhenti dan menyaksikan, banyak yang mengabadikan momen dengan kamera mereka. Dialog visual tentang keragaman pun tercipta di sana.
Suara azan dan bacaan ayat suci yang bergema, berseling dengan klakson kendaraan, menawarkan perspektif baru. Untuk sesaat, Times Square seolah bertransformasi. Dari simbol kapitalisme global, ia berubah menjadi panggung harmoni yang membuktikan satu hal: perbedaan justru bisa memperkaya wajah kemanusiaan kita.
Malam itu, di persimpangan dunia, sebuah pesan spiritual dikumandangkan. Dan ratusan orang, dalam dinginnya malam New York, mendengarkannya.
Artikel Terkait
Pemprov Kepri Bantah Isu Penghentian Total Ferry Malaysia-Tanjungpinang
UU HKPD Ancam TPP Ribuan ASN di Bangka Barat
Bangka Belitung Terapkan WFH untuk ASN, Layanan Publik Tetap Berjalan
Wisatawan Tewas Hanyut di Air Terjun Tibu Ijo Lombok Barat