MURIANETWORK.COM - Ramadan 1447 Hijriah dimulai di Gaza pada Rabu (18 Februari 2026) dalam bayang-bayang krisis kemanusiaan yang belum usai. Warga Palestina di wilayah tersebut terpaksa menjalani ibadah puasa di tengah kelangkaan makanan dan air bersih yang parah, sementara serangan sporadis masih terjadi meski ada kesepakatan gencatan senjata. Kontras terlihat jelas di Yerusalem Timur, di mana ribuan jamaah tetap memadati Masjid Al Aqsa meski dengan pengamanan ketat.
Puasa di Tengah Kelangkaan
Suasana sahur dan buka puasa di Gaza tahun ini jauh dari kemeriahan biasanya. Banyak keluarga berkumpul dengan piring yang hampir kosong, mengandalkan sedikit persediaan dari dapur umum atau bantuan yang distribusinya tidak menentu. Tradisi berkumpul dengan hidangan spesial Ramadan kini hanya menjadi kenangan, tergantikan oleh perjuangan harian untuk sekadar mendapat jatah makanan pokok.
Janji Bantuan yang Tak Sesuai Realita
Kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober lalu seharusnya membuka keran bantuan kemanusiaan secara signifikan. Rencananya, sekitar 600 truk bantuan diizinkan masuk ke Gaza setiap hari. Namun, di lapangan, jumlah truk yang benar-benar tiba dilaporkan jauh lebih sedikit dari angka yang dijanjikan. Kesenjangan antara kesepakatan dan implementasi ini memperpanjang penderitaan warga.
“Meja makan yang dulu penuh saat Ramadan sebelum perang, kini bergantung pada jadwal bantuan yang masuk ke wilayah tersebut,” ungkap sebuah laporan yang mengutip situasi di sana.
Ketegangan dan Korjiwa yang Terus Berjatuhan
Gencatan senjata ternyata tidak sepenuhnya menghentikan kekerasan. Laporan dari tanah Gaza menyebutkan bahwa serangan masih terjadi di beberapa titik, menewaskan ratusan orang sejak gencatan diberlakukan. Kondisi ini tidak hanya menambah trauma, tetapi juga membuat proses distribusi bantuan menjadi semakin rumit dan berbahaya, memperburuk situasi warga yang sedang berpuasa.
Kontras Kondisi di Yerusalem Timur
Sementara Gaza bergulat dengan kelaparan dan ketidakpastian, kehidupan Ramadan di Yerusalem Timur menunjukkan wajah lain. Ribuan jamaah tetap memadati kompleks Masjid Al Aqsa untuk menunaikan salat Tarawih, meski di bawah pengawasan ketat aparat keamanan. Otoritas setempat diketahui telah memberlakukan ratusan pembatasan akses bagi warga Palestina sejak awal tahun, menciptakan atmosfer yang tegang di sekitar tempat suci tersebut.
Pesan Damai di Tengah Operasi Militer
Di tengah situasi yang kompleks ini, pihak Israel menyampaikan pesan yang kontradiktif. Melalui akun media sosial resmi, militer dan Kementerian Luar Negeri Israel mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan kepada umat Islam.
“Militer dan Kementerian Luar Negeri Israel menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan kepada umat Islam melalui media sosial, meski operasi militer di wilayah Palestina masih berlangsung,” jelas laporan yang mengutip pernyataan tersebut.
Ramadan dalam Duka dan Keterbatasan
Pada akhirnya, Ramadan 2026 bagi warga Gaza adalah perjalanan spiritual yang diwarnai duka mendalam dan ketidakpastian yang mencekik. Ibadah puasa yang seharusnya menjadi momentum mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperkuat solidaritas, kini harus dijalani dengan tenaga yang terkuras oleh kelaparan dan jiwa yang terluka oleh konflik yang tak kunjung reda. Semangat ketahanan mereka diuji dalam bentuknya yang paling keras.
Artikel Terkait
Ditlantas Polda Metro Prediksi Perubahan Pola Kemacetan Jakarta Selama Ramadan 2026
KSOP Manado Siagakan Dua Kapal Patroli Antisipasi Cuaca Buruk
Polda Metro Jaya Perketat Pengawasan di Titik Rawan Tawuran Jakarta
Kajati Sulut Soroti Green Financial Crime dan Dampak Tambang Ilegal