MURIANETWORK.COM - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan optimisme terhadap perekonomian nasional, dengan pertumbuhan yang diperkirakan tetap kuat hingga tahun 2026 meskipun menghadapi tantangan perlambatan ekonomi global. Proyeksi ini didasarkan pada momentum pertumbuhan yang solid di tahun 2025 dan didukung oleh sejumlah faktor pendorong domestik yang berkelanjutan.
Proyeksi Optimistis di Tengah Tantangan Global
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo secara resmi mengumumkan prakiraan tersebut dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Kamis (19 Februari 2026). Lembaga otoritas moneter itu memandang ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh dalam rentang 4,9 hingga 5,7 persen (year-on-year) pada tahun 2026. Angka ini melanjutkan tren peningkatan dari perkiraan pertumbuhan 5,03 persen di 2024 dan 5,11 persen di 2025.
Perry Warjiyo menegaskan bahwa optimisme ini bukan tanpa dasar, melainkan berlandaskan pada sinergi kebijakan yang komprehensif.
"Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2026 meningkat dalam kisaran 4,9–5,7 persen (yoy) sejalan dengan berbagai kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
Pendorong Utama Pertumbuhan Ekonomi
Analisis BI mengidentifikasi beberapa pilar utama yang akan menopang ekspansi ekonomi. Di sisi permintaan, konsumsi rumah tangga diproyeksikan tetap tangguh. Peningkatan ini didukung oleh program stimulus pemerintah, kebijakan moneter yang akomodatif, serta ekspektasi konsumen yang terus membaik. Aktivitas ekonomi pada momen-momen penting seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, dan Idulfitri 1447 H di awal tahun juga diperkirakan memberikan dorongan signifikan.
Sementara itu, dari sisi investasi, prospeknya juga cukup cerah. Pertumbuhan investasi diprakirakan menguat, didorong oleh realisasi anggaran pemerintah untuk proyek-proyek strategis, termasuk program hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA). Kepercayaan dunia usaha yang terus pulih pasca pandemi menjadi faktor pendukung lain yang turut diperhitungkan dalam proyeksi ini.
Strategi Sinergis untuk Ketahanan Jangka Panjang
Mencapai target pertumbuhan di tengah ketidakpastian global tentu memerlukan pendekatan yang terkoordinasi. Bank Indonesia menyadari hal ini dan menekankan pentingnya kolaborasi erat antar lembaga. Perry Warjiyo menggarisbawahi komitmen BI untuk terus memperkuat bauran kebijakannya guna menciptakan fondasi pertumbuhan yang berdaya tahan.
"Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan," tuturnya.
Pernyataan ini mengisyaratkan pendekatan kehati-hatian sekaligus optimisme. Di satu sisi, BI tetap waspada terhadap dinamika eksternal yang bergejolak. Di sisi lain, kepercayaan diri itu muncul dari fundamental ekonomi domestik yang dinilai semakin kokoh, ditambah dengan ruang kebijakan yang masih tersedia untuk merespons berbagai skenario ke depan. Proyeksi ini pada akhirnya bukan hanya tentang angka, melainkan juga tentang keyakinan terhadap ketahanan dan momentum pemulihan ekonomi Indonesia.
Artikel Terkait
Garuda Hibahkan Pesawat Boeing 737 untuk Latihan Calon Haji di Aceh
Jadwal Buka Puasa Bekasi: Magrib 18.17 WIB, Isya 19.27 WIB
Mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Divonis Seumur Hidup atas Tindakan Pemberontakan
Polisi Amankan Delapan Preman Parkir di Tanah Abang Usai Tarif Rp100 Ribu Viral