Bayangkan sebuah pembangkit listrik yang bisa menyediakan energi besar, tapi namanya saja sudah bikin was-was: nuklir. Ya, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) memang masih meninggalkan bayangan kelam di benak banyak orang. Ingatan kolektif kita langsung melayang ke Fukushima tahun 2011, atau bahkan lebih jauh ke tragedi Chernobyl di 1986. Dua bencana itu menjadi momok yang terus menghantui setiap kali wacana pengembangan energi nuklir mengemuka.
Namun begitu, di balik kekhawatiran itu, para ahli justru punya pandangan berbeda. Syaiful Bakhri, Kepala Organisasi Riset BRIN, menegaskan bahwa desain PLTN modern sebenarnya dibangun dengan standar keselamatan yang sangat ketat. "Pada dasarnya PLTN didesain dengan aspek keselamatan yang sangat tinggi," ujarnya.
Menurutnya, untuk reaktor generasi III ke atas, semua aspek keamanan sudah diperhitungkan matang-matang. Bahkan sebelum groundbreaking, pemilihan lokasi sudah melalui proses penyaringan ketat. Daerah dengan risiko likuifaksi tinggi, erosi besar, atau yang rawan gempa bumi, akan langsung dicoret dari peta.
"PLTN sudah didesain untuk bisa mengantisipasi kondisi seismik, gempa, kehilangan catu daya, atau kondisi-kondisi yang disebabkan ulah manusia,"
kata Syaiful kepada Katadata dalam sebuah pertemuan di Kantor BRIN. Intinya, selain menghindari zona rawan, pembangkit ini juga dilengkapi berbagai fitur canggih untuk menekan risiko. Ambil contoh, jika terjadi kerusakan pada bahan bakar, ada sistem pengungkung berlapis yang mencegah eskalasi. Prinsip redudansi alias sistem cadangan juga diterapkan, siap mengambil alih jika komponen utama gagal berfungsi.
Di sisi lain, mengingat Indonesia akan mengimpor teknologi ini, Syaiful menekankan pentingnya memilih teknologi yang sudah teruji di lapangan. "Yang sudah beroperasi, yang sudah ada izinnya, kita tahu rantai pasoknya seperti apa," ucapnya. Pilihan ini sekaligus menjadi bentuk komitmen terhadap keamanan. Belum lagi ada prinsip non-proliferasi, yang membuat bahan nuklir di dalamnya sangat kecil kemungkinannya disalahgunakan untuk tujuan non-damai.
Lalu, bagaimana dengan data risikonya secara global? Ternyata, angka-angka itu cukup mengejutkan. Mengutip Our World in Data, nuklir justru termasuk energi dengan risiko kematian terendah. Cuma 0,03 kematian per terawatt-jam. Bandingkan dengan batu bara yang angkanya 24,6, atau minyak di 18,4. Bahkan tenaga angin (0,04) dan matahari (0,02) pun risikonya tidak jauh berbeda.
Dari sisi emisi, ceritanya mirip. Emisi karbon dari PLTN sepanjang siklus hidupnya hanya sekitar 6 ton CO2 ekuivalen per gigawatt-jam. Sungguh kontras dengan batu bara yang memuntahkan 970 ton, atau 160 kali lipat lebih banyak.
Belum Tepat Diterapkan di Indonesia?
Tapi, semua data global itu belum tentu bisa langsung dipakai untuk konteks Indonesia. Menurut Yayasan CERAH yang dikutip melalui laman Transisi Energi Berkeadilan, kondisi geografis kita yang berada di cincin api Pasifik adalah tantangan besar. Rentan gempa dan tsunami. Membangun PLTN di sini, kata mereka, cukup berbahaya.
RUPTL 2025-2034 sendiri sudah memetakan 28 wilayah potensial, dengan Kalimantan Barat dan Kepulauan Bangka Belitung sebagai kandidat utama terutama karena cadangan uraniumnya yang melimpah. Tapi, kedua wilayah ini pun tak lepas dari ancaman bencana alam dan iklim ekstrem.
Kekhawatiran serupa diungkapkan WALHI. Mereka menolak, menyoroti besarnya biaya investasi, potensi kecelakaan, dan posisi Indonesia yang rawan bencana. Bagi WALHI, rencana ini terkesan lebih mengutamakan kepentingan industri ketimbang ketahanan energi yang sesungguhnya.
"Sesat pikir paling krusial juga terlihat ketika energi nuklir dianggap sebagai bagian dari energi terbarukan oleh promotor PLTN,"
tulis WALHI dalam sebuah rilis. Mereka berpendapat, ancaman krisis energi masa depan seharusnya diatasi dengan mengoptimalkan potensi energi terbarukan yang sudah kita miliki, sambil serius menjalankan efisiensi energi di segala lini. Jadi, perdebatan ini bukan cuma soal teknologi, tapi juga tentang pilihan jalan yang paling tepat untuk negeri ini.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Joki Motor Curian di Jakarta Barat, Satu Pelaku Masih Buron
Ketua Satgas PRR Apresiasi DPR, Sebut Jumlah Pengungsi di Sumatera Turun Drastis
PAM JAYA Raih Platinum Award dan Peringkat 9 Dunia untuk Laporan Tahunan
Pendaftaran Guru SMA Unggul Garuda Baru Ditutup, 96 Lowongan untuk Empat Sekolah Baru