Lebih lanjut, muncul laporan bahwa otoritas Israel menghalangi persiapan teknis yang dilakukan oleh Islamic Waqf, lembaga yang dikelola Yordania untuk mengelola situs tersebut.
"Otoritas menghalangi pemasangan struktur peneduh dan pendirian klinik medis sementara," tulis pernyataan resmi Pemerintah Provinsi tersebut.
Sumber internal Waqf juga mengonfirmasi bahwa puluhan karyawannya dilarang memasuki kompleks dalam sepekan terakhir, sebuah langkah yang dianggap menghambat persiapan menyambut jamaah.
Status Quo yang Terus Diuji
Kompleks Al-Aqsa bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol sentral identitas Palestina dan titik panas konflik yang abadi. Status quo yang telah berlangsung lama mengizinkan umat Yahudi berkunjung, namun melarang mereka beribadah di lokasi tersebut. Meski pejabat kepolisian menegaskan tidak ada perubahan rencana terkait aturan ini, kepercayaan pihak Palestina terus terkikis.
Kekhawatiran ini dipicu oleh aksi-aksi provokatif sejumlah tokoh ultra-nasionalis Yahudi dalam beberapa tahun terakhir, termasuk menteri sayap kanan Itamar Ben-Gvir, yang secara terbuka menantang larangan ibadah di sana. Situasi ini membuat setiap Ramadan menjadi periode yang penuh kehati-hatian.
Pemerintah Israel menyatakan tetap berkomitmen menjaga stabilitas. Namun, kehadiran aparat keamanan dalam jumlah besar di lokasi yang sudah memanas justru bisa menjadi bumerang. Ramadan kali ini, sekali lagi, diperkirakan akan menjadi ujian nyata bagi ketenangan di Yerusalem, di mana setiap kebijakan dan insiden kecil berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas.
Artikel Terkait
Penumpang Berhak Refund Jika Maskapai Batalkan atau Ubah Jadwal Penerbangan
Banjir Rendam Pondok Hijau Ciputat, Evakuasi dengan Perahu Karet Berlanjut
Polri Kerahkan Ratusan Personel ke Papua Tengah dan Malut Usai Konflik dan Penyerangan
Gubernur Jateng Tinjau Banjir Demak, Tekankan Penanganan dari Hulu ke Hilir