Dia mengatakan penandatanganan dokumen keanggotaan dilakukan usai bertemu Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, di Blair House, Washington. Foto pertemuan itu pun beredar.
Lantas, bagaimana sikap Indonesia?
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan kehadiran Israel tidak mengubah niat Indonesia untuk bergabung. Pemerintah menilai perdamaian membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Tapi, pesannya jelas.
Yvonne meminta keikutsertaan Indonesia di BoP jangan dimaknai sebagai normalisasi hubungan politik dengan pihak mana pun. Bukan juga sebagai legitimasi terhadap kebijakan negara tertentu. Intinya, prinsip tetap dijaga.
"Keanggotaan negara manapun dalam BoP tidak mengubah posisi prinsip tersebut," kata Yvonne kepada Bisnis, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, alasan Indonesia terlibat sederhana: ingin ambil bagian dalam stabilisasi, perlindungan warga sipil, bantuan kemanusiaan, dan rekonstruksi Gaza. Semua itu, katanya, sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 (2025). Niatnya membantu, politik urusan nanti.
Artikel Terkait
Red Hat dan Google Cloud Pererat Integrasi untuk Modernisasi Aplikasi
Jalan Salib Katedral Jakarta: Para Pemain Rasakan Perjalanan Spiritual Mendalam
Mega Career Expo 2026 Kembali Digelar di Jakarta, Buka Ribuan Lowongan
Satu Tewas dalam Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang