Panen Raya di Lapas Hasilkan 123 Ton Produk Pangan dan Ternak

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 15:55 WIB
Panen Raya di Lapas Hasilkan 123 Ton Produk Pangan dan Ternak

"Kami menyelaraskan dengan arah kebijakan Bapak Presiden, karena beliau sangat fokus terhadap masalah ketahanan pangan," jelas Agus.

"Artinya kita menyelaraskan antara tugas yang kita emban sehari-hari dengan kondisi yang ada. Dengan harapan walaupun kecil, kita setidaknya sudah memberikan kontribusi," tambahnya.

3. Memutar Roda Ekonomi Lokal

Lalu, pasar untuk produk-produk ini di mana? Pasar utamanya ya di lapas sendiri. Menteri Agus sudah mengatur, vendor atau mitra penyedia makanan untuk lapas wajib menyerap minimal 5 persen hasil panen dari dalam.

"Minimal 5 persen atas produk ketahanan pangan yang dikerjakan lapas dan rutan," tegasnya.

Vendornya pun diarahkan untuk memprioritaskan pengusaha lokal. Tujuannya jelas: menggerakkan ekonomi daerah. Kalau hasil panen melimpah, baru dijual ke luar, bisa ke program makan bergizi gratis, pasar tradisional, atau langsung ke masyarakat.

Hal serupa berlaku untuk produk UMKM. Pemasaran digenjot lewat media sosial lapas, pemberitaan, bahkan festival nasional bernama IPPA Fest yang jadi etalase produk warga binaan.

4. Keterampilan untuk Masa Depan

Yang tak kalah penting, warga binaan yang terlibat dapat premi dari penjualan. Ini bisa jadi tabungan saat mereka bebas nanti.

"Tentu saja agar mereka punya skill, dan siap menjalankan aktivitas sebagai individu pada umumnya di tengah masyarakat," lanjut Menteri Agus.

Ia juga menekankan, pembinaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Komunitas sosial harus terlibat, apalagi dengan adanya KUHP baru yang mengenal sanksi pidana kerja sosial.

Menariknya, program ini tak cuma menginspirasi warga binaan. Para pegawai lapas pun mulai terbuka pikirannya. Aktivitas ketahanan pangan dan UMKM ini bisa jadi contoh untuk mempersiapkan masa pensiun mereka.

"Sisi positif bagi internal adalah menyadarkan pegawai untuk mempersiapkan diri menghadapi pensiun," pungkas Agus.

Jadi, di balik tembok tinggi, ada secercah harapan yang mulai tumbuh. Bukan cuma soal menyelesaikan masa hukuman, tapi juga mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelahnya.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar