Lalu, bagaimana dengan target 8% di akhir periode pemerintahan? Purbaya mengakui angka itu tertuang dalam RPJMN. Tapi, dia bersikukuh bahwa mencapainya tidak harus dengan melanggar batas defisit. Kuncinya, menurut dia, adalah dengan tidak hanya mengandalkan APBN.
Pemerintah kini juga mengandalkan investasi, khususnya melalui Danantara, sebagai mesin pertumbuhan. “Kalau kami lihat investasi sudah cukup, yaudah tidak usah [tambah stimulus]. Tetapi kalau ada misalnya perlu stimulus tambahan, kami pikirkan,” ujarnya. “Nanti kalau sudah tumbuhnya 7,5% ke 8%, baru kami pikirkan. Sekarang sih belum ada niat untuk melewati batas itu.”
Keyakinannya ini punya dasar. Dia mengacu pada pencapaian era Presiden SBY dulu, di mana ekonomi sempat tumbuh 6% sebelum akhirnya ‘terjebak’ di rata-rata 5% seperti sekarang. Sebagai ekonom berlatar belakang insinyur ITB, Purbaya punya resep sendiri: menghidupkan dua mesin sekaligus.
“Kalau saya gabung kan bisa saja, utangnya flat saja, tetapi ekonominya tumbuh lebih cepat seperti zaman Pak SBY, karena dua mesin pertumbuhan saya gunakan. Mesin pertumbuhan swasta, private sector, dan government sector,” pungkasnya.
Dengan strategi itu, dia berharap pengelolaan fiskal bisa lebih sehat. Intinya, mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa harus menambah utang baru untuk membiayai belanja pemerintah. Sebuah jalan tengah yang ingin dibuktikannya tidak mustahil.
Artikel Terkait
Indonesia Buka Investasi Karbon Swasta, Jepang Diajak Kerja Sama di Tokyo
Pertamina Pastikan Harga BBM Tak Berubah Sepanjang April 2026
KPK Perpanjang Masa Tahanan Yaqut Cholil Qoumas
Anak 5 Tahun Diserang Anjing Liar di Polewali Mandar, Satu Ekor Ditembak Warga