Jakarta – Pembangunan infrastruktur listrik nasional memang krusial. Tapi, bagi anggota Komisi XII DPR RI Jamaludin Malik, ada hal yang tak kalah penting dari sekadar menegakkan tiang dan kabel: bagaimana caranya membangun dengan hati. Legislator dari Fraksi Golkar ini menegaskan, penguatan tata kelola dan pendekatan sosial harus jadi prioritas.
Tanpa itu, proyek sebesar apapun bisa mentah di tengah jalan. Gardu induk dan jaringan transmisi, misalnya, punya peran vital untuk menjaga keandalan sistem dan menjamin kecukupan daya. Namun begitu, aspek teknis yang canggih tak akan berarti banyak jika di lapangan justru menimbulkan gesekan sosial.
PLN sebagai BUMN penyedia listrik, menurut Jamaludin, memikul tanggung jawab pelayanan publik yang berat. Transparansi dan akuntabilitas bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Partisipasi masyarakat pun harus diutamakan, bukan diabaikan.
Ia lalu menyinggung sebuah contoh nyata yang terjadi di Desa Tunggul Pandean, Kabupaten Jepara. Di sana, rencana pendirian Gardu Induk 150 kV dikabarkan berjalan tanpa musyawarah desa yang memadai. Warga setempat punya sejumlah keberatan.
Lokasi gardu dinilai terlalu dekat dengan permukiman. Lalu, ada isu penggunaan tanah bengkok desa yang diduga tanpa persetujuan warga. Mereka merasa sosialisasi berjalan ala kadarnya. Kekhawatiran tentang aspek keselamatan, ruang bebas, dan jarak aman sesuai aturan pun mengemuka.
“PLN perlu memperkuat due diligence sosial sebelum eksekusi fisik proyek dilakukan,” tegas Jamaludin dalam keterangannya, Kamis (12/2/2026).
Artikel Terkait
Polri Resmikan Laboratorium Sosial Sains untuk Kembangkan Model Pemolisian Berbasis Data
Tabrakan di Tikungan 11 Gagalkan Balapan Veda Ega Pratama di Moto3 AS
MBG di SDN Duren Sawit 02 Pagi Baru Dimulai Besok
Lalu Lintas Jakarta Timur Mulai Padat di Hari Pertama Usai Libur Lebaran