Ketegangan di Timur Tengah memaksa Indonesia bergerak cepat. Pemerintah baru saja mengumumkan rencana pengalihan impor minyak mentah dan LPG dari kawasan itu. Pemicunya? Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang langsung memicu kekhawatiran soal kelancaran pasokan energi.
Selat itu kan jalur utama. Bayangkan, hampir seperempat kebutuhan minyak mentah kita sekitar 20-25% selama ini datang dari Timur Tengah lewat jalur sempit itu. Kalau macet, ya repot. Makanya, langkah ini diambil sebagai antisipasi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan keputusan itu dengan nada serius. Dia bilang, situasi konflik antara Iran, Israel, dan AS sulit ditebak kapan berakhirnya.
“Kami alihkan sebagian porsi impor crude dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Supaya ada kepastian ketersediaan crude,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Selasa lalu.
Nah, rencana ini ternyata punya dasar lain juga. Ada kesepakatan dagang dengan AS soal tarif yang baru saja ditandatangani dua minggu sebelumnya. Nilainya gak main-main, mencapai US$ 15 miliar untuk impor crude, BBM, dan LPG.
Menariknya, meski keputusan tarif dari AS sempat dibatalkan Mahkamah Agung mereka, Bahlil menegaskan komitmen Indonesia tetap jalan.
“Apalagi kalau harganya ekonomis, kenapa tidak. (Rencana) ini sudah kami komunikasikan,” tambahnya.
Gak cuma minyak mentah, LPG juga ikut dialihkan. Tahun ini, impor LPG kita mencapai 7,8 juta ton. Sebagian besar memang sudah dari AS, tapi 30%-nya masih bergantung pada Saudi Aramco. Dan di situlah masalahnya.
Salah satu kilang Aramco di Ras Tanura baru-baru ini kena imbas konflik. Serangan drone menyebabkan kebakaran terbatas dan memaksa penutupan sementara. Kapasitasnya besar, 550 ribu barel per hari. Risikonya jelas.
“Alternatifnya kami alihkan impor (LPG dari sana), agar tidak mengambil risiko. Pengalihannya ke negara yang tidak berkaitan dengan Selat Hormuz,” jelas Bahlil.
Kepanikan di Ras Tanura
Insiden di Ras Tanura terjadi Senin lalu. Saudi Aramco langsung menutup operasional kilang terbesarnya itu. Menurut kantor berita resmi Saudi, SPA, penutupan adalah langkah pencegahan. Mereka klaim pasokan untuk pasar lokal tidak terganggu.
Reuters melaporkan, dua drone berhasil ditangkap di area kilang. Puing-puingnya memicu kebakaran di beberapa titik. Syukurlah, tidak ada korban luka yang dilaporkan.
Kilang yang terletak di pesisir Teluk Arab ini adalah terminal ekspor vital. Sebuah sumber menyebut situasi sudah “berada di bawah kendali”. Tapi, kekhawatiran pasar tetap nyata.
Bagaimana tidak? Penutupan kilang besar ini berbarengan dengan macetnya pengiriman lewat Selat Hormuz. Dua pukulan sekaligus untuk pasokan energi global. Indonesia, dengan mengambil langkah awal ini, berusaha keluar dari pusaran ketidakpastian itu. Harapannya, pasokan tetap aman dan harga tidak melonjak tak terkendali.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Indonesia hingga Akhir April 2026
Iran Bantah Klaim Trump Soal Pemindahan Uranium yang Diperkaya
GRANAT Apresiasi Prestasi Polda Riau Ungkap 1.026 Kasus Narkoba dalam 4 Bulan
Candi Borobudur Gelar Kirab Pusaka Nusantara untuk Pertama Kalinya