Melihat tren ini, Mirdal bersikeras: momentumnya sudah tepat. Saatnya Indonesia melangkah lebih agresif untuk jadi pemimpin utama, bukan sekadar peserta. Angka-angkanya memang luar biasa. Pengeluaran konsumen muslim global saat ini menyentuh USD2,43 triliun, atau sekitar Rp40 ribu triliun. Dan itu diprediksi bakal membengkak jadi USD3,36 triliun pada 2028.
“Berdasarkan laporan yang sama di 2023, angkanya sudah segitu. Proyeksi 2028 bahkan lebih besar lagi, mencapai USD3,36 triliun atau setara Rp55 ribu triliun,” ungkap dia.
Gambaran besarnya tak berhenti di situ. Aset keuangan Islam global juga mencengangkan, mencatat angka fantastis sebesar USD4,93 triliun. Potensi pertumbuhannya bahkan bisa meroket hingga USD7,53 triliun dalam beberapa tahun mendatang. Ini jelas bukan pasar kecil. Ini pasar raksasa yang bakal menentukan arah ekonomi dunia ke depan.
Pemerintah, kata Mirdal, tampaknya menyadari peluang besar ini. Responnya berupa integrasi kebijakan ekonomi Islam ke dalam RPJMN 2025-2029 dan RPJPN 2025-2045. Fokusnya akan diarahkan pada penguatan sektor riil industri halal dan mengoptimalkan keuangan sosial Islam.
“Pemimpin ekonomi syariah global saat ini strategis bagi Indonesia,” tegasnya. “Sebab, faktanya, ekonomi syariah global adalah pasar raksasa.”
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Beberkan Oknum Internal Bawa Kembali Vendor Bermasalah Penyebab Gangguan Coretax
Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series 2026 di SUGBK
Presiden Prabowo Bertolak ke Jepang, Bahas Kerja Sama Strategis dengan Kaisar dan PM
Arus Balik Lebaran, Kemacetan 5 Kilometer Paralyze Jalur Pantura Cirebon