"Lebih dari itu, risiko migrasi BPA akan makin tinggi," jelas Profesor Chalid.
BPA atau Bisphenol-A adalah senyawa kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik polikarbonat dan dapat bersifat mengganggu sistem endokrin. Paparan jangka panjang terhadap senyawa ini, berdasarkan berbagai kajian ilmiah, dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan reproduksi, diabetes, obesitas, hingga beberapa jenis kanker.
Mata Rantai Distribusi yang Menjadi Titik Lemah
Persoalan tidak hanya berhenti pada usia galon. Novita Hardini menilai, lemahnya pengawasan pada tahap distribusi turut memperburuk situasi. Air yang semula memenuhi standar kualitas ketika keluar dari pabrik, berpotensi terkontaminasi saat berada di tangan agen atau pengecer. Praktik yang sering terlihat di lapangan, seperti menjemur galon terlalu lama di bawah terik matahari untuk mempercepat pengeringan, dinilai dapat mempercepat proses migrasi kimia berbahaya.
"Kualitas air itu sering menurun bukan di pabriknya tapi karena galon dijemur terlalu lama di bawah matahari karena stok di agen-agennya, karena ada migrasi kimia dari plastik ke air," paparnya.
Pernyataan ini menyoroti sebuah celah kritis dalam rantai pasok, di mana prosedur penanganan yang kurang tepat di tingkat distribusi dapat membahayakan keamanan produk yang sampai ke konsumen akhir.
Artikel Terkait
Jens Raven Gantikan Mauro Zijlstra yang Cedera untuk Final FIFA Series 2026
Nenek Penjual Sosis di Maros Jadi Korban Pencurian Berani di Siang Bolong
Pakar UGM: PP TUNAS Perlu Diimbangi Literasi Digital untuk Cegah Kecanduan Anak
Mantan Menhan Juwono Sudarsono Dimakamkan dengan Penghormatan Militer di Kalibata