Jerman Pertanyakan Keamanan Cadangan Emas 1.236 Ton di AS di Bawah Pemerintahan Trump

- Selasa, 10 Februari 2026 | 16:45 WIB
Jerman Pertanyakan Keamanan Cadangan Emas 1.236 Ton di AS di Bawah Pemerintahan Trump

Pendapat senada disampaikan Presiden Leibniz Centre for European Economic Research (ZEW), Achim Wambach. Ia menilai bahwa ketergantungan terhadap AS, yang kini dianggap bukan lagi mitra yang sepenuhnya dapat diandalkan, perlu dikaji ulang.

Namun, di sisi lain, banyak pula yang menilai kekhawatiran itu berlebihan. Mantan anggota dewan eksekutif Bundesbank, Johannes Beermann, berargumen bahwa reputasi New York sebagai pusat keuangan global akan hancur jika AS melakukan penyitaan sepihak.

"Siapa pun pemilik emas itu, jika AS tiba-tiba merampas emas milik pemiliknya, maka pusat perdagangan emas New York akan kolaps," tegas Beermann.

Keyakinan akan keamanan aset juga diungkapkan langsung oleh Presiden Bundesbank, Joachim Nagel. Dalam sebuah wawancara, ia menyatakan, "Saya tidak meragukan bahwa emas kami di Fed New York disimpan dengan aman. Ini adalah cadangan mata uang dengan status perlindungan khusus."

Tren Pemulangan Emas oleh Berbagai Negara

Meski perdebatan tentang risiko terus berlangsung, tren untuk menarik cadangan emas kembali ke tanah air telah berjalan. Pemicu awalnya adalah krisis keuangan 2008 dan krisis zona Euro 2010. Menyusul kedua peristiwa itu, Bundesbank sendiri telah memulangkan sekitar 674 ton emas dari AS dan Prancis antara 2013 hingga 2017.

Jerman bukan satu-satunya. Belanda menarik 122 ton emas dari New York pada 2014. Austria dan Belgia dikabarkan meninjau ulang strategi penyimpanannya. Sementara Hungaria dan Polandia secara aktif menambah porsi penyimpanan emas di dalam negeri dan menarik cadangan dari luar negeri sejak 2018, sebuah langkah yang banyak dilihat sebagai upaya meningkatkan kedaulatan ekonomi.

Cadangan Emas dan Tekanan Fiskal Negara

Di luar isu lokasi penyimpanan, cadangan emas juga mulai dilihat beberapa pihak sebagai potensi sumber pendanaan negara di saat darurat sebuah langkah yang kontroversial. Rusia, misalnya, dilaporkan telah menggunakan penjualan cadangan emas dari dana kekayaannya untuk membiayai pengeluaran negara, termasuk biaya konflik. Turki, Uzbekistan, dan Kazakhstan juga diketahui rutin memanfaatkan emas untuk memperoleh likuiditas.

Di Italia, wacana untuk mendeklarasikan cadangan emas bank sentral sebagai aset publik juga mengemuka. Namun, para ahli moneter memandang langkah semacam itu dengan hati-hati.

Mengubah status cadangan emas bank sentral dapat membuka pintu bagi intervensi politik, di mana pemerintah yang sedang kesulitan dapat tergoda untuk menggunakannya untuk menutup defisit atau melunasi utang. Campur tangan semacam itu, pada akhirnya, berisiko menggoyahkan kepercayaan investor internasional terhadap stabilitas dan independensi kebijakan ekonomi suatu negara.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar