MURIANETWORK.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mencopot mural bergaya seni pop (WPAP) bergambar mantan Gubernur Ridwan Kamil dari dinding underpass Dewi Sartika, Kota Depok. Tindakan yang dilakukan oleh petugas Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Jabar ini disertai rencana pergantian slogan 'Jabar Juara' menjadi 'Jabar Istimewa' di berbagai ruang publik, memantik perbincangan mengenai penggunaan simbol visual pejabat di wilayah umum.
Proses Pencopotan dan Sikap Pemerintah
Pencopotan gambar wajah Ridwan Kamil itu dilakukan secara bertahap oleh petugas di lapangan. Dengan menggunakan alat las dan gergaji, mereka melepas seluruh bagian mural yang menempel di dinding underpass tersebut. Langkah ini tampaknya merupakan bagian dari upaya pembaruan visual di ruang publik oleh pemerintah provinsi yang baru.
Saat dimintai konfirmasi, Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman memilih untuk tidak memberikan komentar lebih jauh. Ia beralasan bahwa persoalan tersebut berada di luar tanggung jawab langsungnya.
"Saya kira tidak dalam kapasitas saya (mengomentari itu)," tuturnya.
Momentum Evaluasi dari Dewan
Di luar hiruk-pikuk teknis pencopotan, momen ini justru dilihat sebagai kesempatan untuk mengevaluasi praktik lama oleh sebagian kalangan legislatif. Anggota DPRD Jawa Barat Ronny Hermawan menyoroti perlunya perubahan cara pandang terhadap pemasangan gambar pejabat di tempat-tempat umum.
Menurut politikus dari Daerah Pemilihan Kota Depok-Kota Bekasi ini, esensi kepemimpinan seharusnya lebih diutamakan daripada sekadar kehadiran visual.
"Kalau saya pribadi, memang sebaiknya pejabat publik tidak sering-sering menampilkan wajah di billboard, reklame, jembatan, underpass," jelas Ronny Hermawan. "Jauh lebih penting bekerja nyata di tengah masyarakat. Jadi bukan kehadiran gambar, tapi kehadiran kerja dan kinerja jauh lebih utama."
Pergantian Slogan dan Narasi Baru
Selain menghapus mural, Pemprov Jabar juga menginisiasi pergantian narasi di ruang publik. Slogan 'Jabar Juara' yang selama ini identik dengan periode kepemimpinan sebelumnya, rencananya akan diganti dengan tagline baru, yaitu 'Jabar Istimewa'. Kebijakan ini mengindikasikan upaya pemerintah untuk membangun identitas dan corak kepemimpinan yang berbeda, sekaligus mengalihkan fokus publik dari figur individu menuju nilai-nilai yang lebih kolektif.
Langkah-langkah pembaruan visual semacam ini kerap menjadi perhatian, bukan hanya sebagai perubahan estetika, tetapi juga sebagai penanda peralihan periode pemerintahan dan visi yang hendak dibangun ke depan.
Artikel Terkait
Ketua MA Peringatkan Ancaman Overload, Beban Hakim Agung Capai Rata-rata 2.384 Perkara per Tahun
Kemensos dan DPR Sepakat Perlu Perkuat Data Sosial sebagai Fondasi Kebijakan
Polsek Mampang Dirikan Posko di Lokasi Kebakaran untuk Permudah Pengurusan Dokumen Korban
Menteri Trenggono Klarifikasi Dana Kapal: Saya Enggak Ngerti Maksud Pak Purbaya