Anggota DPR Desak Perlindungan Nyata untuk Industri Film Lokal Hadapi Ancaman Struktural dan AI

- Minggu, 08 Februari 2026 | 09:30 WIB
Anggota DPR Desak Perlindungan Nyata untuk Industri Film Lokal Hadapi Ancaman Struktural dan AI

Industri film kita lagi di ujung tanduk, gitu kesan yang saya tangkap dari pernyataan anggota DPR Novita Hardini. Nggak tanggung-tanggung, dia bilang kita lagi di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada momentum kejayaan yang terasa banget akhir-akhir ini. Tapi di sisi lain, ancaman yang sifatnya struktural juga mengintip cukup serius.

Politikus dari PDIP itu ngomong, kondisi kayak gini jelas butuh solusi. Dan solusinya nggak bisa setengah-setengah.

“Tanpa keberpihakan nyata, kejayaan film Indonesia hanya akan jadi nostalgia, bukan masa depan,”

begitu tegas Novita, Senin kemarin. Pernyataannya itu langsung ke inti persoalan. Menurut dia, negara wajib hadir untuk ngasih perlindungan ke industri film lokal. Kehadiran yang penuh, bukan sekadar wacana.

Nah, soal langkah konkret, Novita yang juga dikenal sebagai bintang film 'Buya Hamka' ini menyoroti peran Panitia Kerja atau Panja Industri Film di DPR. Panja ini, dalam pandangannya, harus jadi instrumen serius. Tugasnya berat: membenahi ekosistem film dari hulu ke hilir dan yang nggak kalah penting, melindungi hak cipta para kreator. Pembiayaan industri juga harus diperkuat, biar nggak mandek di tengah jalan.

Ada satu ancaman lain yang dia angkat, dan ini cukup menggelisahkan: kecerdasan buatan atau AI.

“AI jangan dipoles sebagai inovasi jika faktanya menggerus ruang hidup pekerja kreatif kita. Negara tidak boleh abai terhadap ancaman ini,”

katanya lagi. Dia khawatir, teknologi yang sering dibungkus dengan kata ‘modernisasi’ ini malah bakal mempersempit lapangan kerja para pelaku seni. Jadi, di tengah euforia kemajuan, kita justru harus mawas diri.

Intinya, momennya sekarang. Bisa kita jadikan pijakan untuk maju, atau malah terperosok karena ancaman yang diabaikan. Semuanya tergantung langkah kita berikutnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar