16 Emiten Gelontorkan Rp15,39 Triliun untuk Buyback Saham

- Minggu, 08 Februari 2026 | 10:40 WIB
16 Emiten Gelontorkan Rp15,39 Triliun untuk Buyback Saham

MURIANETWORK.COM - Sebanyak 16 emiten secara serentak mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham mereka, dengan total nilai yang dialokasikan mencapai Rp15,39 triliun. Aksi korporasi ini dilakukan sebagai respons terhadap gejolak pasar yang terjadi belakangan ini, dengan tujuan menstabilkan harga saham dan menjaga kepercayaan investor. Pelaksanaan buyback direncanakan berlangsung mulai Februari hingga Mei 2026, memanfaatkan relaksasi kebijakan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Respons Korporasi di Tengah Volatilitas Pasar

Gelombang rencana buyback yang diumumkan secara berdekatan ini bukanlah suatu kebetulan. Langkah ini muncul di tengah sentimen pasar yang cenderung negatif, di mana banyak saham mengalami tekanan harga. Dengan membeli kembali sahamnya di pasar, perusahaan-perusahaan tersebut secara aktif menunjukkan komitmen untuk mendukung nilai saham mereka sendiri. Tindakan ini sering dipandang oleh pelaku pasar sebagai sinyal kepercayaan diri manajemen terhadap prospek fundamental perusahaan di masa depan.

Fleksibilitas dalam pelaksanaannya juga patut dicatat. Sebagian rencana buyback ini dilakukan dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sementara yang lain memanfaatkan kemudahan regulasi dari OJK. Relaksasi ini memungkinkan respons yang lebih cepat dan lincah dari emiten dalam merespons dinamika pasar yang berubah dengan cepat.

Daftar Emiten dan Alokasi Dana

Dari keenam belas emiten tersebut, beberapa perusahaan berkapitalisasi besar tampak mengalokasikan dana yang sangat signifikan, mencerminkan skala dan kapasitas keuangan mereka. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menempati posisi teratas dengan anggaran buyback senilai Rp5 triliun.

“PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalokasikan dana terbesar senilai Rp5 triliun,” ungkap data yang dihimpun dari pengumuman resmi perusahaan.

Posisi berikutnya diisi oleh dua emiten yang masing-masing menyiapkan dana Rp2 triliun. “Disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang masing-masing menyiapkan Rp2 triliun,” jelasnya.

Rangkaian emiten lain juga mengalokasikan dana dalam jumlah yang cukup besar, menunjukkan partisipasi yang luas dari berbagai sektor. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menganggarkan Rp1,5 triliun, sementara PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) masing-masing menyiapkan Rp1 triliun.

Emiten Lain yang Turut Melakukan Buyback

Tidak hanya emiten kapitalisasi besar, perusahaan dari berbagai lapisan juga turut serta dalam gelombang aksi korporasi ini. Berikut daftar lengkapnya beserta nilai alokasi dana:

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mengalokasikan Rp750 miliar, diikuti PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sebesar Rp500 miliar, dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) senilai Rp300 miliar.

PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) disebutkan akan melanjutkan program buyback tahap ketiga dengan sisa dana sekitar Rp280 miliar. Sementara itu, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) masing-masing menyiapkan Rp250 miliar.

Di bagian akhir daftar, PT RMK Energy Tbk (RMKE) dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) masing-masing menganggarkan Rp200 miliar. Kemudian, PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) menyiapkan Rp100 miliar, dan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) mengalokasikan dana sebesar Rp60,7 miliar.

Jangka Waktu dan Harapan Pasar

Rencana buyback yang masif ini tidak dilaksanakan dalam waktu singkat. Periode pelaksanaannya terbentang cukup panjang, dari Februari 2026 hingga Mei 2026. Rentang waktu yang hampir dua tahun ini memberi ruang bagi perusahaan untuk melakukan pembelian secara bertahap, kemungkinan pada saat-saat yang mereka nilai paling strategis dan harga dianggap wajar.

Meski diumumkan sebagai respons terhadap kondisi pasar saat ini, dampak psikologisnya diharapkan dapat segera dirasakan. Investor seringkali melihat aksi kolektif semacam ini sebagai upaya stabilisasi yang serius dari dunia korporasi, yang pada gilirannya dapat meredam kepanikan dan mendorong pemulihan sentimen. Keberhasilan program ini nantinya akan sangat bergantung pada konsistensi eksekusi dari masing-masing emiten serta perkembangan kondisi makroekonomi secara keseluruhan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar