MURIANETWORK.COM - Lebih dari 50 juta warga Thailand memenuhi hak pilihnya dalam pemilihan umum parlemen dan referendum konstitusi nasional, Minggu (8 Februari 2026). Pemungutan suara yang dimulai pukul 08.00 waktu setempat ini bukan hanya menentukan komposisi 500 anggota Dewan Perwakilan Rakyat, tetapi juga menjadi penentu arah reformasi konstitusi dan kelangsungan pemerintahan Perdana Menteri interim Anutin Charnvirakul.
Pemilu Penentu Arah Politik
Pemilu kali ini digelar menyusul pembubaran majelis rendah parlemen pada pertengahan Desember lalu, atau satu tahun lebih cepat dari jadwal berakhirnya masa jabatan. Sekitar 5.000 kandidat dari berbagai partai politik bertarung untuk memperebutkan kursi di parlemen. Hasilnya akan sangat krusial bagi masa depan politik kerajaan tersebut.
Dari total kursi yang diperebutkan, 400 diisi melalui pemilihan langsung di daerah pemilihan. Sementara itu, 100 kursi lainnya dialokasikan secara proporsional berdasarkan perolehan suara partai di tingkat nasional. Sistem campuran ini membuat dinamika persaingan menjadi semakin kompleks.
Referendum untuk Amandemen Konstitusi
Selain mencoblos di bilik suara untuk memilih wakil rakyat, para pemilih juga dihadapkan pada sebuah referendum konstitusional. Referendum ini mengajukan satu pertanyaan mendasar: apakah proses penulisan ulang konstitusi yang disusun di era militer harus dimulai?
Artikel Terkait
Astronom Temukan Jalan Pintas Baru: Bintang Tenang Ternyata Sinyal Eksoplanet
RUU Hak Cipta Rampung Dibahas, Atur Royalti dan Karya Hasil AI
AS Peringatkan Warga Sipil, Iran Serang Kapal Dagang di Selat Hormuz yang Ditutup Total
Polri dan Jurnalis Bagikan 100 Paket Sembako untuk Anak Yatim dan Dhuafa di Jakarta Barat