Wacana Regenerasi NU: Kiai Maruf Amin Disebut Figur Potensial Jelang Muktamar

- Minggu, 08 Februari 2026 | 07:45 WIB
Wacana Regenerasi NU: Kiai Maruf Amin Disebut Figur Potensial Jelang Muktamar

Sebelumnya, ketika menerima amanah sebagai calon wakil presiden pada 2019, Kiai Ma'ruf dengan patuh melepas jabatannya sebagai Rais Aam PBNU. Langkah ini dilakukan sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga hasil Muktamar ke-33.

"Melalui mekanisme rapat pleno, jabatan tersebut kemudian diserahkan kepada K.H. Miftachul Akhyar sebagai Pejabat Sementara," jelasnya.

Episode tersebut menjadi contoh nyata bagaimana aturan organisasi ditegakkan secara konsisten, sekaligus menunjukkan keseimbangan antara khidmat kepada negara dan kepatuhan pada konstitusi internal. Kini, setelah masa tugas kenegaraan berakhir, hambatan konstitusional itu tidak lagi relevan, sehingga membuka ruang diskusi yang lebih substansial tentang kontribusi ke depan.

Mencari Keseimbangan antara Tradisi dan Pembaruan

Pada akhirnya, diskusi tentang figur kepemimpinan di NU sebaiknya tidak direduksi menjadi kontestasi dukungan yang emosional. Proses ini lebih tepat dipandang sebagai ikhtiar kolektif untuk menemukan sosok yang paling sesuai dengan kebutuhan zaman, dengan tetap berpegang pada prinsip dasar organisasi.

"Prinsip al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik), tetap menjadi pedoman," tuturnya.

Prinsip itu menawarkan jalan tengah yang khas NU: bukan memilih antara tradisi atau modernitas, melainkan merangkul keduanya secara bijak. Kepemimpinan yang mampu berdiri di titik temu itu dengan pijakan keilmuan yang sahih dan pemahaman terhadap tata kelola kontemporer menjadi sangat relevan untuk dipertimbangkan.

Apa pun hasil musyawarah kelak, esensi kepemimpinan di NU tetaplah soal amanah dan keteladanan. Organisasi ini membutuhkan sosok yang mampu merawat kebersamaan, menjaga kesejukan dalam perbedaan, dan memastikan NU tetap menjadi kekuatan moral serta sosial yang menebar kemaslahatan bagi seluruh umat dan bangsa.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar