MURIANETWORK.COM - Militer Israel kembali melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza pada Jumat (6/2/2026), menghancurkan sebuah gedung di kawasan Zeitoun, Kota Gaza. Serangan yang terekam dalam video ini diklaim sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata, di tengah eskalasi yang terus meningkat dan korban jiwa yang berjatuhan di wilayah tersebut.
Gedung Hancur dalam Serangan Udara
Serangan udara yang terjadi pada Jumat waktu setempat itu berhasil meluluhlantakkan sebuah bangunan. Rekaman video dari lokasi kejadian dengan jelas menunjukkan momen gedung tersebut ambruk setelah dihantam dari udara. Meski wilayah sekitar dikabarkan telah dievakuasi, insiden ini semakin memperkeruh situasi keamanan yang sudah tegang.
Klaim Israel dan Tanggapan dari Gaza
Pihak militer Israel dengan tegas membenarkan serangan tersebut. Mereka menyatakan bahwa sasaran merupakan fasilitas milik Hamas yang digunakan untuk memproduksi dan menyimpan persenjataan.
"Gedung yang menjadi sasaran digunakan sebagai fasilitas produksi dan penyimpanan senjata milik Hamas," jelas juru bicara militer Israel.
Di sisi lain, laporan dari otoritas kesehatan di Gaza memberikan gambaran yang lebih suram mengenai dampak konflik berkepanjangan ini. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, korban tewas warga Palestina telah melampaui 550 orang sejak gencatan senjata yang ditengahi AS berlaku pada Oktober 2025. Angka yang memilukan ini mencakup banyak anak-anak dan bayi yang menjadi korban.
Eskalasi dan Korban Jiwa yang Terus Bertambah
Insiden di Zeitoun bukanlah yang pertama dalam gelombang kekerasan terbaru. Dalam sepekan terakhir saja, serangkaian serangan dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 54 orang. Situasi di lapangan menunjukkan ketidakstabilan yang mendalam, dengan potensi konflik yang siap meledak kapan saja.
Rentetan serangan ini terjadi di atas landasan gencatan senjata yang rapuh. Kedua pihak saling tuduh melakukan pelanggaran, membuat kesepakatan damai yang ada nyaris tidak memiliki fondasi yang kuat. Suasana di Jalur Gaza hingga saat ini masih diliputi ketidakpastian dan kekhawatiran akan eskalasi militer lebih lanjut.
Artikel Terkait
Trump Tolak Minta Maaf atas Video Rasis Obama, Sebut Kesalahan Staf
Polisi Selamatkan Empat Anak Korban TPPO, 10 Tersangka Ditetapkan
Astra Daihatsu Buka Peluang Umroh Lewat Program DAIFIT 2026
Penerima Bantuan Iuran JKN Dinonaktifkan, Pemerintah Buka Mekanisme Reaktivasi