PT Bank Syariah Indonesia (BRIS) tampaknya tak akan membagikan dividen dengan porsi besar dalam waktu dekat. Hal ini disampaikan langsung oleh jajaran direksi bank. Alasan utamanya? Mereka sedang fokus pada ekspansi.
“Kalau sebuah perusahaan masih dalam tahap pertumbuhan pesat, urusan dividen biasanya jadi prioritas kedua,” ujar Ade Cahyo Nugroho, Direktur Finance & Strategy BSI, Sabtu lalu (7/2/2026).
Menurut Cahyo, BSI memilih untuk memperkuat modal internal. Langkah ini dianggap lebih krusial ketimbang membagi-bagikan laba secara agresif. Terutama jika dibandingkan dengan bank-bank besar lain di lingkup Himbara yang sudah lebih mapan.
"Kami tidak akan seagresif itu soal dividen. Kekhawatiran utama kami justru bagaimana punya ekuitas yang cukup untuk mendukung pertumbuhan BSI yang memang agresif," tambahnya.
Memang, kalau melihat angka tahun 2024 lalu, BSI 'hanya' membagikan dividen tunai sebesar Rp1,05 triliun. Angka itu setara dengan 15% dari total laba bersih mereka. Rasio pembayaran yang terbilang cukup konservatif.
Di sisi lain, keputusan menahan laba ini bukannya tanpa dasar. Kinerja BSI sepanjang 2025 ternyata sangat solid. Laba bersihnya mencapai Rp7,57 triliun, naik 8% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang menurut mereka berkualitas.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, pun menyebut capaian ini berkelanjutan.
“Alhamdulillah, pertumbuhan tahun 2025 kami double digit dan sustainable, sama dengan tahun-tahun sebelumnya,” kata Anggoro.
Angka-angka pendukungnya pun impresif. Total aset melesat jadi Rp456 triliun, tumbuh lebih dari 11%. Pembiayaan mencapai Rp319 triliun dengan pertumbuhan hampir 14,5%. Yang menarik, bisnis emas mereka melonjak drastis 78,6% menjadi Rp22,9 triliun. Rasio NPF Gross pun tetap terjaga di level aman, 1,81%.
Tak hanya itu, lini bisnis seperti Tabungan Haji yang naik 10,03% disebut-sebut menjadi mesin pendorong efisiensi.
“Ini menjadi engine kami yang juga akan membantu penurunan cost of fund,” pungkas Anggoro.
Jadi, intinya jelas. BSI sedang memilih untuk berinvestasi pada masa depannya sendiri. Laba yang dihasilkan lebih banyak ditanamkan kembali untuk memperkuat fondasi dan mendanai ekspansi, alih-alih dibagikan sepenuhnya kepada pemegang saham. Sebuah strategi jangka panjang yang mereka anggap tepat untuk fase growth stage ini.
Artikel Terkait
MNC Tourism Gelar Topping Off dan Groundbreaking Proyek Baru di Lido City
Menkeu Ungkap Strategi di Balik Penangkapan Pejabat Bea Cukai oleh KPK
Presiden Prabowo Tegaskan Persatuan Ulama-Umara Kunci Kemakmuran Indonesia
Industri Otomotif RI Tembus Investasi Rp194,2 Triliun, Kendaraan Listrik Melonjak