Ledakan di sebuah tambang batu bara ilegal di India telah memakan korban jiwa lebih banyak lagi. Hingga Sabtu (7/2), angka kematian resmi telah mencapai 23 orang. Peristiwa tragis ini mengguncang distrik East Jaintia Hills pada Kamis lalu.
Tambang yang hancur itu dikenal lokal sebagai 'tambang lubang tikus'. Sebutan itu menggambarkan betapa berbahayanya lokasi tersebut lubang vertikal yang dalam, sering dibikin di tebing bukit, lalu bercabang jadi terowongan sempit untuk mengeruk batu bara.
Operasi penyelamatan masih terus berjalan, meski kondisi di lapangan sulit. "Hari ini kami menemukan empat jenazah lagi," ujar pejabat senior distrik, Manish Kumar. "Kami akan melanjutkan operasi penyelamatan lagi besok."
Korban terus berjatuhan. Seorang pria yang sebelumnya terluka parah, menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit pada Jumat. Itu yang menambah daftar panjang korban tewas.
Menurut Kepala Kepolisian distrik Vikash Kumar, ledakan hebat itu diduga kuat dipicu oleh dinamit. Bahan peledak itu sering digunakan secara sembarangan di tambang-tambang liar semacam ini.
Ironisnya, praktik mengerikan ini sebenarnya sudah dilarang. Pengadilan lingkungan federal India telah mengeluarkan larangan penambangan 'lubang tikus' di Meghalaya sejak 2014 silam. Warga setempat waktu itu mengeluhkan pencemaran sumber air dan ancaman keselamatan yang terus membayangi.
Namun begitu, larangan itu seolah tak berarti di lapangan. Penambangan ilegal justru tetap merajalela di seluruh negara bagian, terutama di kawasan East Jaintia Hills ini. Nyaris tak terbendung.
Kembali, nyawa manusia jadi taruhannya. Dan keluarga-keluarga di sana kini harus berduka.
Artikel Terkait
Gajah Sumatera Tewas Diburu, Gadingnya Hilang di Pelalawan
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Area Konsesi PT RAPP, Diduga Diburu
Wamendagri Tekankan Sinergi Pusat-Daerah untuk Wujudkan Visi Bupati dan Program Nasional
Timnas Futsal Indonesia Lolos ke Final Piala Asia untuk Pertama Kalinya