MURIANETWORK.COM - Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah dan ancaman bencana alam lain ke depan mendorong perlunya evaluasi terhadap sistem Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Saat ini, meski stok beras dan jagung tercatat aman, kebutuhan di lapangan saat tanggap darurat justru memerlukan bentuk pangan yang lebih praktis: makanan siap saji. Inilah yang melatari wacana pengembangan CPP Tanggap Darurat (CPP TD), sebuah langkah strategis untuk memastikan bantuan tepat guna bagi masyarakat terdampak.
Dari Stok Mentah ke Makanan Siap Santap
Cadangan pangan nasional, yang mencakup komoditas seperti beras, jagung, hingga minyak goreng, telah berperan penting dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan. Namun, pengalaman di lokasi bencana menunjukkan bahwa bahan mentah seringkali tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh korban yang kehilangan akses ke alat masak dan air bersih. Oleh karena itu, transformasi CPP menjadi produk siap konsumsi bukan lagi sekadar opsi, melainkan sebuah keharusan.
CPP Tanggap Darurat diharapkan dapat memenuhi kriteria khusus: siap santap tanpa perlu dimasak, bernilai gizi baik, tahan lama tanpa pendingin, serta memiliki cita rasa yang dapat diterima. Dua bentuk yang dinilai paling potensial adalah pangan kering dan Pangan Semi Basah (PSB).
Kunci Keawetan: Mengenal Aktivitas Air
Teknologi untuk memproduksi pangan awet semacam itu sebenarnya telah matang. Kunci utamanya terletak pada pengendalian water activity atau aktivitas air (aw) di dalam produk olahan. Konsep ini, yang telah dipelajari puluhan tahun, menjelaskan ketersediaan air bebas yang dapat mendukung pertumbuhan mikroba dan reaksi kimia perusak pangan.
Secara teknis, aktivitas air berbeda dengan kadar air. Kadar air hanya mengukur jumlah total air, sementara aw mengukur seberapa "bebas" air tersebut untuk terlibat dalam proses perusakan. Semakin rendah nilai aw-nya, semakin sulit mikroorganisme berkembang dan semakin lambat reaksi kimia berlangsung.
"Umumnya disepakati bahwa dengan nilai aw lebih kecil atau sama dengan 0.6 tidak ada mikroorganisme perusak pangan yang dapat berkembang biak di dalam pangan itu," jelas Sudarsono Hardjosoekarto, Guru Besar Universitas Indonesia. Prinsip inilah yang membuat biskuit atau mi instan sangat awet.
Pangan kering biasanya memiliki aw di bawah 0.6. Sementara PSB, seperti dodol atau abon, berada pada kisaran 0.65-0.85. Meski lebih tinggi, nilai aw pada PSB dapat distabilkan dengan penambahan gula, garam, atau bahan penstabil lain, sehingga tetap aman dan awet disimpan dalam waktu lama.
Artikel Terkait
Masjid At-Thohir di Los Angeles Jadi Pusat Ibadah dan Perekat Diaspora Indonesia
Mantan Menag Yaqut Jalani Pemeriksaan Kesehatan, Tunggu Keputusan Kembali ke Rutan
Prabowo Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah dan Genjot Digitalisasi dalam 5 Tahun
Arus Balik Mudik Mulai Padati Jalan Alternatif Cibubur