Pemerintah Kaji Cadangan Pangan Siap Santap untuk Tanggap Darurat Bencana

- Jumat, 06 Februari 2026 | 09:40 WIB
Pemerintah Kaji Cadangan Pangan Siap Santap untuk Tanggap Darurat Bencana

Meramu Pengetahuan Tradisional dan Teknologi Modern

Menariknya, konsep pengawetan dengan mengontrol air ini bukanlah hal baru. Kearifan lokal nenek moyang kita telah melahirkan beragam PSB tradisional, seperti dodol, rendang, atau ikan asin, yang secara alami memiliki daya simpan panjang. Produk-produk ini menjadi bukti nyata bahwa prinsip keawetan pangan telah dipraktikkan secara turun-temurun.

Di sisi lain, industri pangan modern telah mengembangkan teknik canggih seperti freeze drying, ekstrusi, atau enkapsulasi untuk menghasilkan pangan darurat dengan nutrisi terukur dan kemasan praktis. Bahkan, teknologi yang digunakan untuk membuat space food bagi astronot atau military ration untuk pasukan tempur dapat diadopsi untuk mengembangkan CPP TD yang lebih bervariasi dan bergizi.

Meski space food dengan teknologi tingginya mungkin terlalu mahal untuk produksi massal, prinsip dasarnya yaitu pangan ringan, awet, dan siap santap sangat relevan. Demikian pula dengan ransum militer yang dirancang untuk kondisi lapangan berat, dapat menjadi referensi berharga untuk menciptakan logistik pangan darurat yang tangguh.

Membangun Sistem Tanggap Darurat yang Komprehensif

Pelajaran dari negara seperti Jepang patut menjadi pertimbangan. Negeri tersebut membangun pusat-pusat tanggap darurat di berbagai wilayah yang dilengkapi tidak hanya dengan alat berat dan transportasi, tetapi juga cadangan logistik pangan olahan siap saji. Kesigapan ini diperkuat dengan budaya swadaya masyarakat yang didorong untuk menyimpan stok pangan kering di rumah masing-masing.

Pendekatan serupa dan terintegrasi tampaknya mendesak untuk diterapkan. Pembangunan pusat logistik darurat kewilayahan yang menyimpan CPP TD, baik berupa pangan kering maupun PSB, dapat mempercepat distribusi bantuan.

Sinergi yang kuat antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Perum BULOG, TNI, dan pemerintah daerah menjadi tulang punggung untuk meminimalisir penderitaan korban. Dengan memadukan keahlian pengelolaan stok, teknologi pangan, dan kemampuan logistik lapangan, ketahanan pangan pada masa krisis yang paling sulit dapat benar-benar diwujudkan.

Sudarsono Hardjosoekarto. Guru Besar Universitas Indonesia.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar