Veronika menjelaskan, orang tua YBR telah melunasi pembayaran tahap pertama untuk semester I sebesar Rp 500.000. Sisa yang harus dibayar pada semester II adalah Rp 720.000. "Itu hanya untuk kelas IV. Itu bukan dikatakan tunggakan karena dia masih tahun berjalan. Di sekolah itu bayarnya cicil, tahap pertama semester satu sebesar Rp 500 ribu dan itu sudah mereka lunasi. Jadi untuk semester II ini membayar yang sisanya ini (Rp 720 ribu)," ujarnya.
Hasil Pengecekan Langsung ke Sekolah
Veronika dan timnya telah melakukan kunjungan dan verifikasi langsung ke sekolah tempat YBR belajar pada Selasa (3/2). Mereka menemui kepala sekolah, guru, keluarga almarhum, serta warga sekitar untuk mendapatkan gambaran utuh. Salah satu poin kritis yang ditelusuri adalah adanya dugaan ancaman atau tekanan dari pihak sekolah terhadap siswa yang belum melunasi pembayaran.
Dari hasil pemeriksaan lapangan, tim tidak menemukan indikasi pengusiran atau ancaman semacam itu. Menurut Veronika, pihak sekolah hanya melakukan pengumpulan siswa usai jam pelajaran untuk menyampaikan informasi mengenai kewajiban pembayaran kepada orang tua. Proses pemberitahuan ini dilakukan secara rutin.
"Itu yang kami kroscek ke sekolah apakah ada, misalnya kita ini budaya Flores ini usir (karena) uang sekolah, itu yang kami tanyakan ke pihak sekolah apakah ada begitu. Tetapi jawaban pihak sekolah, itu bersifat informasi," terang Veronika.
Kasus ini menyisakan duka mendalam dan menjadi pengingat keras tentang kompleksnya persoalan yang dihadapi anak-anak dari keluarga rentan. Di balik angka cicilan yang terlihat formal, tersimpan beban psikologis yang mungkin tidak terdeteksi, terutama pada anak yang berada dalam situasi tekanan ekonomi yang mencekik.
Artikel Terkait
Filipina Izinkan Sementara Bahan Bakar Euro-II untuk Jaga Stok di Tengah Krisis
MAKI Pertanyakan Perbedaan Perlakuan KPK pada Penahanan Yaqut dan Lukas Enembe
Dua Prajurit Marinir Gugur Disergap Kelompok Bersenjata di Maybrat
Polisi Terapkan Sistem Satu Arah dari Puncak ke Jakarta, Arus Naik Padat