Damion Lowe Resmi Diperkenalkan, Bek Jamaika Siap Perkuat Lini Belakang Dewa United

- Jumat, 13 Februari 2026 | 21:00 WIB
Damion Lowe Resmi Diperkenalkan, Bek Jamaika Siap Perkuat Lini Belakang Dewa United
Damion Lowe dan Tantangan Baru di Super League

MAKASSAR Bayangkan, seorang bek yang pernah berhadapan langsung dengan Messi dan Ronaldo, kini bersiap menghadapi hiruk-pikuk Liga Indonesia. Itulah realitas yang dibawa Damion Lowe ke Dewa United Banten FC. Bukan cuma soal nama besar, tapi lebih pada mentalitas yang terbentuk di lapangan-lapangan elite.

Dewa United resmi mendatangkannya di putaran kedua BRI Super League 2025/2026. Posisi tim di klasemen? Jujur saja, belum menggembirakan. Mereka terpaku di peringkat 12 dengan 24 poin. Kehadiran Lowe, bek asal Jamaika 32 tahun itu, jelas seperti angin segar. Sebuah sinyal bahwa klub ini punya niat lebih dari sekadar bertahan hidup.

Reputasinya di kancah global tak perlu diragukan. Lowe punya 78 caps dan empat gol untuk timnas Jamaika. Karier klubnya juga cukup berwarna: dari Major League Soccer (MLS) bersama Houston Dynamo, lalu merambah Timur Tengah dan Eropa Utara. Pengalamannya itu yang diharapkan bisa menjadi penawar bagi ketidakstabilan lini belakang Dewa United.

Dalam perkenalan resminya, Lowe tak banyak bertele-tele. Gayanya lugas, to the point.

“Ketika sebuah tim punya ambisi tinggi, saya ingin jawab dengan performa terbaik,” ujarnya.

Itu bukan sekadar kalimat penyemangat. Di bawah asuhan Jan Olde Riekerink, Dewa United memang kerap terlihat goyah, terutama di menit-menit krusial. Mereka butuh sosok pemimpin di belakang, seseorang yang bisa mengorganisir dan memberi ketenangan. Lowe dikenal sebagai bek tangguh dalam duel udara, tegas, dan vokal. Figur seperti inilah yang mungkin jadi jawaban.

Namun begitu, ujian pertamanya tak akan mudah. Mereka harus bertandang ke markas PSM Makassar di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare. Kandang PSM terkenal sebagai tempat yang menakutkan bagi tim tamu.

PSM punya permainan agresif dan transisi cepat. Tekanan fisik mereka luar biasa. Di sinilah Lowe dituntut tampil: membaca permainan, memutus umpan, dan tetap cool meski suporter berteriak keras. Untungnya, tekanan semacam ini bukan hal baru baginya. Ia sudah merasakan atmosfer panas MLS dan laga-laga internasional. Tinggal buktikan saja di tanah Parepare.

Sebenarnya, yang diharapkan dari Lowe lebih dari sekadar tugas defensif biasa. Manajemen butuh dia jadi katalis, pengubah mentalitas. Tim papan tengah sering terjebak di zona nyaman tidak terancam degradasi, tapi juga jauh dari puncak. Dengan sisa 14 pertandingan, peluang untuk bangkit masih ada.

“Tujuan saya sederhana, membangun fondasi kuat agar tim bisa bersaing meraih gelar,” kata Lowe tentang misinya.

Kedengarannya ambisius? Memang. Tapi sepak bola butuh keyakinan semacam itu. Tanpa ambisi, mustahil ada perubahan.

Sekarang, semua mata tertuju padanya. Sepak bola Indonesia kini makin kompetitif, tekanan media dan suporter makin besar. Reputasi internasional hanya akan bertahan beberapa pekan awal. Setelah itu, yang bicara adalah konsistensi dan kontribusi nyata di lapangan.

Laga di Parepare nanti akan jadi pembuktian pertama. Bisik-bisik soal masa lalunya menghadapi dua legenda sepak bola dunia akan berhenti. Yang penting adalah, apakah dia bisa membentengi Banten Warriors dari gempuran Juku Eja?

Pada akhirnya, petualangan di MLS atau di timnas Jamaika hanyalah prolog. Babak penting karier Damion Lowe justru dimulai sekarang, di Super League. Di bawah lampu sorot stadion, di tengah teriakan yang memekakkan telinga, dalam setiap tekel dan sundulan yang menentukan.

Kalau dia berhasil mengubah kerapuhan menjadi kekuatan, Dewa United tak cuma dapat pemain bagus. Mereka dapat seorang pemimpin.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar