BRI Pacu UMKM Naik Kelas Lewat Program Klaster Usaha

- Rabu, 04 Februari 2026 | 16:25 WIB
BRI Pacu UMKM Naik Kelas Lewat Program Klaster Usaha

Bagi pelaku UMKM di sektor produksi, naik kelas seringkali terasa seperti mimpi. Tapi, program "Klasterku Hidupku" dari BRI mencoba menjawab tantangan itu. Intinya, mereka tak cuma kasih kucuran dana, tapi membangun sebuah ekosistem. Di dalamnya, pelaku usaha bisa saling berkolaborasi, memperbesar skala produksi, dan akhirnya punya daya saing yang lebih kuat di pasar lokal.

Fokusnya jelas: sektor-sektor yang jadi tulang punggung ekonomi daerah. Hingga akhir 2025, angka yang dicapai cukup signifikan. BRI tercatat telah membina lebih dari 42 ribu klaster usaha. Tak main-main, mereka juga menggelar ribuan kegiatan pemberdayaan, mulai dari pelatihan hingga dukungan sarana produksi.

Menurut Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, harapannya klaster-klaster yang sukses ini bisa jadi contoh bagi daerah lain.

"Dengan pendekatan ini BRI berharap klaster usaha yang berhasil berkembang dapat menjadi referensi dan role model bagi UMKM di daerah lainnya. Semoga cerita inspiratif dari Klaster Usaha Panaba di Banyuwangi menjadi kisah inspiratif yang dapat direplika oleh pelaku usaha di daerah," jelasnya dalam keterangan tertulis, Rabu lalu.

Nah, salah satu kisah yang dimaksud datang dari Banyuwangi. Di sana, Kelompok Petani Buah Naga atau yang akrab disapa Panaba, merasakan langsung dampak program ini.

Pemimpin kelompok, Edy, bercerita. Dulu, mengembangkan usaha rasanya berat, apalagi kalau mau sentuh teknologi yang modalnya besar. "Kalau sendiri, berat," ujarnya.

Namun begitu, pendampingan BRI mengubah banyak hal. Mereka fokus pada solusi untuk masalah paling mendasar: ketergantungan pada musim. Sejak 2013, klaster Panaba mulai berinovasi dengan pemanfaatan lampu untuk mengatur siklus produksi buah naga. Hasilnya? Produksi jadi lebih konsisten, kualitas panen pun meningkat.

Dukungannya tak berhenti di situ. BRI juga mendatangkan pakar untuk pelatihan langsung, mempermudah akses pinjaman, dan mendukung kegiatan klaster lainnya. Edy bilang, proses peminjaman modal jadi lebih sederhana.

"Kalau petani sudah punya tanaman buah naga, proses pinjamannya tidak ribet dan tidak perlu agunan yang sulit," katanya.

Yang paling terasa, menurut Edy, adalah dampaknya pada mental para petani. Rasa percaya diri mereka tumbuh.

"Dengan adanya pendampingan dari BRI ini, petani jadi lebih yakin dan lebih berani untuk mengembangkan usaha buah naganya," tuturnya. "Petani tidak jalan sendiri."

Itulah kuncinya. Ketika UMKM tidak merasa berjuang sendirian, lompatan untuk naik kelas bukan lagi sekadar wacana.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar