Para menteri dari negara-negara tersebut menilai pelanggaran ini sebagai ancaman langsung. Bukan cuma terhadap proses politik, tapi juga terhadap upaya menciptakan kondisi stabil di Gaza, baik dari sisi keamanan maupun kemanusiaan yang memprihatinkan.
Harapannya, semua pihak bisa menahan diri. Kemlu berharap gencatan senjata bisa dipertahankan, agar perdamaian yang adil dan sesuai hukum internasional bagi rakyat Palestina bukan sekadar impian.
Serangan Sabtu lalu itu sendiri dampaknya tragis. Laporan menyebutkan setidaknya 32 orang tewas. Badan pertahanan sipil yang dioperasikan Hamas menyebut di antara korban ada anak-anak dan perempuan.
Medan serangannya pun terbilang mengerikan. Helikopter tempur disebut menghantam tenda-tenda pengungsian di Khan Younis, Gaza selatan. Bagi warga Palestina yang merasakan langsung, serangan ini digambarkan sebagai yang terberat sejak fase kedua gencatan senjata diberlakukan mulai Oktober 2025.
Suasana yang seharusnya tenang, kembali berubah menjadi mimpi buruk.
Artikel Terkait
Anak Terluka Diduga Akibat Peluru Nyasar, Latihan Militer Korsel Dihentikan Sementara
Lonjakan 247 Persen Pemudik Laut di Pelabuhan Tenau Kupang
Transjakarta Perpanjang Jam Operasi Bus Wisata Selama Libur Lebaran 2026
Kemenag Ingatkan Etika Berbuka Saat Mudik dan Anjurkan Manfaatkan Aplikasi Pusaka