tegas Airlangga menyampaikan janji pemerintah.
Memang, gonjang-ganjing di bursa saham pekan itu cukup serius. Catatannya, IHSG anjlok parah pada Rabu dan Kamis (28-29 Januari). Aksi jual besar-besaran, terutama dari investor asing, memicu pelemahan hingga 8% yang memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan.
Rabu lalu, trading halt pertama diberlakukan sekitar pukul 13.43 WIB. Saat penutupan, IHSG terpangkas 7,35% ke level 8.320,55. Kerugiannya? Net sell asing mencapai Rp 6,17 triliun hanya dalam satu hari.
Keesokan harinya, Kamis, sejarah terulang. Lagi-lagi pelemahan 8% memicu penghentian perdagangan sesi pagi. IHSG akhirnya ditutup terkoreksi 1,06% di level 8.232,20, dengan catatan net sell asing masih tinggi: Rp 4,44 triliun.
Namun begitu, ada secercah harapan di akhir pekan. Pada perdagangan Jumat, IHSG berhasil bangkit dan menguat 1,81% ke level 8.329,60. Meski begitu, tren jual bersih masih berlanjut dengan nilai Rp 1,53 triliun untuk hari itu saja. Kalau diakumulasi sepanjang 2026, angkanya sudah mencapai Rp 7,75 triliun.
Pemicu keributan ini, seperti yang banyak dianalisis, berasal dari dua hal: review dari MSCI dan pemangkasan peringkat oleh Goldman Sachs. Dua kabar itu cukup untuk menggoyang sentimen pasar. Tapi pesan dari pemerintah jelas: fondasi ekonomi kita, kata mereka, masih kokoh. Tinggal menunggu waktu untuk pulih.
Artikel Terkait
Pezeshkian Tegaskan Iran Tak Ingin Perang, Sementara Trump Kerahkan Armada Besar
Warga Bogor Berhamburan Usai Pria Bawa Golok Mengamuk di Permukiman
Presiden Prabowo Perintahkan Pembersihan Pasar Modal, Saham Gorengan Jadi Sasaran
Guncangan di OJK: Empat Pucuk Pimpinan Serentak Mengundurkan Diri