Menurutnya, tradisi hormat-menghormati di pesantren begitu kental. Itulah fondasi yang menjaga harmoni. Perbedaan pendapat memang ada, namun akhlak selalu dijaga.
“Bagaimana kita lihat tradisi pondok, santri begitu respek dan begitu hormatnya terhadap kiai-nya,” tutur Menag.
“Sungguh pun, antara, mungkin santri dengan kiai berbeda pendapat, tetapi akhlakul karimah seorang santri sangat menjunjung tinggi keberadaan kiai.”
Dinamika, baginya, adalah warna yang tak terpisahkan. Namun begitu, semua itu justru mengukuhkan NU sebagai keluarga yang sakinah. Inilah keunikan yang ia lihat.
Di akhir sambutan, ia menegaskan keyakinannya. “Karena itu, insyaallah NU ke depan tetap akan kita jadikan sebagai wadah kekuatan besar bangsa Indonesia ini,” imbuhnya. Sebuah penutup yang tegas dan penuh harap untuk satu abad berikutnya.
Artikel Terkait
Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup dengan Tokoh Oposisi, Sjafrie Singgung Kebocoran Rp 5.777 Triliun
Penyidik Riau Gali Ruh Hukum Baru dalam Forum Kolaboratif
Kaesang Pangarep Siap Peras Darah Demi Kemenangan PSI di 2029
Ma Dong-seok dan Lisa BLACKPINK Bikin Heboh, Syuting Film di Jakarta Libatkan Rekayasa Lalu Lintas