Menurutnya, tradisi hormat-menghormati di pesantren begitu kental. Itulah fondasi yang menjaga harmoni. Perbedaan pendapat memang ada, namun akhlak selalu dijaga.
“Bagaimana kita lihat tradisi pondok, santri begitu respek dan begitu hormatnya terhadap kiai-nya,” tutur Menag.
“Sungguh pun, antara, mungkin santri dengan kiai berbeda pendapat, tetapi akhlakul karimah seorang santri sangat menjunjung tinggi keberadaan kiai.”
Dinamika, baginya, adalah warna yang tak terpisahkan. Namun begitu, semua itu justru mengukuhkan NU sebagai keluarga yang sakinah. Inilah keunikan yang ia lihat.
Di akhir sambutan, ia menegaskan keyakinannya. “Karena itu, insyaallah NU ke depan tetap akan kita jadikan sebagai wadah kekuatan besar bangsa Indonesia ini,” imbuhnya. Sebuah penutup yang tegas dan penuh harap untuk satu abad berikutnya.
Artikel Terkait
DPR Dukung Sikap Prabowo: Bertahan di Board of Peace untuk Pengaruhi Isu Palestina
KPK Dalami Asal Usul Uang Jatah THR Bupati Cilacap
PLN EPI Perketat Koordinasi Pasokan Batu Bara untuk Jaga Stabilitas Listrik
Pegadaian Fasilitasi Mudik Lebih dari 4.000 Pemudik Jelang Lebaran 2026