Dari Balik Jeruji, Telur Asin La New City Lahirkan Harapan Baru

- Jumat, 30 Januari 2026 | 17:25 WIB
Dari Balik Jeruji, Telur Asin La New City Lahirkan Harapan Baru

Di balik tembok Lapas Kotabaru, ada aroma khas yang menyeruak dari sebuah dapur. Di sanalah, telur-telur bebek berubah menjadi telur asin bermerek La New City, lewat tangan-tangan para warga binaan. Ruang itu lebih dari sekadar dapur; ia adalah balai latihan kerja (BLK) yang nyata, tempat keterampilan dan harapan baru diolah.

Menurut sejumlah sumber, prosesnya dimulai dari hal yang paling dasar. Para napi sendiri yang memilih telur bebek berkualitas, lalu mencucinya bersih sebelum permukaan cangkangnya diamplas dengan hati-hati. Tak cuma itu, mereka juga meracik adonan lumpur pengasin yang pas. Setiap tahap dikerjakan dengan penuh perhatian, seolah setiap butir telur itu adalah karya yang berharga.

“Setiap tahap produksi membuat saya semakin terampil dan disiplin. Kami belajar menjaga kualitas dan bekerja dengan standar yang jelas,” tutur seorang napi berinisial N.

Ia menambahkan, “Kegiatan ini memberi kami kesempatan untuk tetap produktif dan menyiapkan diri menghadapi masa depan.”

Setelah dibalur lumpur, telur-telur itu menjalani proses pengasinan. Di hilir, para warga binaan terlihat merapikan dan mengemas produk yang sudah matang. Rapih. Siap untuk dinikmati.

Awalnya, program ini cuma pelatihan biasa. Namun, melihat kemampuan yang berkembang, Lapas Kotabaru lalu melengkapi segala persyaratan agar telur asin ini bisa dijual bebas. Kini, La New City sudah punya sertifikat P-IRT dan halal. Artinya, produk ini memenuhi standar pangan yang resmi dan aman dikonsumsi masyarakat.

Kepala Lapas Kotabaru, Doni Handriansyah, menegaskan komitmennya. “Kami dorong agar Warga Binaan memiliki keterampilan nyata yang dapat dimanfaatkan untuk hidup mandiri dan produktif saat kembali ke masyarakat,” terangnya pada Kamis (29/1).

Perasaan bangga itu juga dirasakan PM, napi lain yang terlibat. Ia senang sekali mengetahui produk buatannya diminati orang banyak.

“Melalui kegiatan ini, saya belajar keterampilan baru dan cara menghasilkan produk yang disukai masyarakat. Semoga dengan adanya kegiatan ini, saya dapat lebih baik,” harapnya.

Seluruh proses ini tak lepas dari pengawasan ketat Petugas Pembina Kemandirian, Aprilita Dwi Imasari. Baginya, yang penting bukan cuma hasil akhir, tapi juga nilai disiplin dan tanggung jawab yang tertanam.

“Setiap tahap produksi dilakukan dengan teliti, mulai dari pemilihan bahan baku, perendaman, hingga proses pengasinan. Kami ingin agar produk yang dihasilkan tidak hanya layak jual, tetapi juga memiliki kualitas yang bisa dibanggakan,” ujar Aprilita.

Di sisi lain, kegiatan ini ternyata memberi manfaat finansial. Ada premi dan PNBP yang masuk, menjadi sumber dukung untuk kegiatan pembinaan dan operasional lapas.

Doni punya visi yang lebih jauh. “Kami ingin setiap hasil karya warga binaan tidak berhenti di dalam tembok Lapas saja. Melalui pembinaan yang terarah, kami dorong agar produk-produk seperti La-New City Craft dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem UMKM yang mandiri dan berdaya saing,” tuturnya.

Program ini, menurutnya, sejalan dengan arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto. Khususnya dalam hal mendayagunakan warga binaan untuk menciptakan produk UMKM yang berkelanjutan dan mampu bersaing di pasar.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar