"Enggak, saya enggak mau pindah-pindah. Udah suka di situ, soalnya tetangga-tetangganya baik-baik gitu. Udah bertahun-tahun (di sini)," katanya.
Dia bercerita, tahun lalu banjir juga datang. Sampai-sampai, isi rumahnya ia kosongkan. Pengalaman pahit perabotan hanyut terbawa air membuatnya kapok.
"Iya, sering habis ludes, enggak sisa apa-apa. Kalau mau beli barang-barang ya saya yang beli. "Entar" kalau banjir lagi hanyut, banjir lagi hanyut. Rumah jadi kosong. Cuma bantal sama karpet doang. Sama piring paling satu, kompor satu, udah," jelas Anna dengan nada pasrah.
Kali ini, prioritasnya jelas: menyelamatkan nyawa. Harta benda? Itu urusan belakangan.
"Kalau banjir "kemarinan"? Enggak ada yang "diselamatin". Nyelamatin diri aja ya Bu ya. Pokoknya dirinya sendiri sama anak-anak udah pada keluar, udah," tuturnya menutup pembicaraan.
Lumpur mungkin akan hilang dibersihkan. Tapi rasa was-was setiap kali langit mendung, sepertinya akan tetap tinggal lebih lama.
Artikel Terkait
Trump Klaim Hamas Siap Serahkan Senjata, Puji Peran dalam Pengembalian Jenazah Sandera
Kebakaran Lahan Gambut di Pelalawan, Tim Gabungan Berjuang Empat Hari di Medan Berat
Menu Bergizi Berujung Petaka, 132 Siswa di Manggarai Barat Keracunan Massal
Dinamika Keraton Solo: PN Solo Kabulkan Ganti Nama, Mangkubumi Fokus Revitalisasi