India Bantah Wabah Nipah, Sebut Kewaspadaan Negara Tetangga Berlebihan

- Kamis, 29 Januari 2026 | 20:45 WIB
India Bantah Wabah Nipah, Sebut Kewaspadaan Negara Tetangga Berlebihan

Kabar soal merebaknya virus Nipah di Benggala Barat dibantah keras oleh pemerintah India. Hingga Selasa lalu, otoritas kesehatan setempat bersikukuh hanya ada dua kasus yang benar-benar terkonfirmasi di negara bagian timur itu. Pernyataan ini muncul di tengah situasi yang agak tegang, dengan beberapa negara tetangga di Asia mulai meningkatkan kewaspadaan dan bahkan memberlakukan skrining di bandara-bandara mereka.

Menurut Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India, langkah-langkah pemeriksaan terhadap penumpang asal India di luar negeri itu dianggap berlebihan. Mereka menyebutnya sebagai reaksi gegabah terhadap laporan-laporan awal yang belum diverifikasi kebenarannya.

Nyatanya, kekhawatiran itu sudah menyebar. Thailand dan Nepal, misalnya, dalam beberapa hari terakhir mengaku telah mulai memeriksa kesehatan pelancong yang datang dari Benggala Barat.

Hong Kong pun tak ketinggalan. Pada Senin (26/01), mereka secara resmi menyatakan telah meminta klarifikasi informasi dari otoritas India, sambil tetap melakukan pemeriksaan terhadap penumpang dari wilayah yang disebut-sebut menjadi episentrum.

Benarkah Cuma Dua Kasus?

Pemerintah India berusaha meluruskan data. Sejak laporan pertama muncul Desember silam, mereka menegaskan hanya dua kasus yang dinyatakan positif setelah melalui uji laboratorium lanjutan. Laporan awal yang menyebut ada lima kasus, kata mereka, berasal dari hasil pemeriksaan pendahuluan yang kemudian direvisi. Jadi, angkanya bukan bertambah, melainkan dikoreksi.

Virus Nipah ini punya masa inkubasi yang cukup panjang, antara 4 sampai 21 hari. Untuk mengantisipasi, sebanyak 196 orang yang punya kontak erat dengan dua pasien itu sudah dikarantina. Kebanyakan dari mereka adalah tenaga medis dan anggota keluarga pasien.

Kalau melihat sejarah, wabah Nipah bukan hal baru di India. Kantor berita ANI melaporkan, negara bagian Kerala di selatan sudah mengalami sembilan kali kejadian luar biasa antara 2018 dan 2025. Pada 2018 saja, lebih dari selusin orang meninggal. Lalu di 2021, seorang anak laki-laki dilaporkan menjadi korban, yang langsung memicu siaga tinggi di kalangan petugas kesehatan.

Mengenal Virus Nipah

Nipah adalah virus zoonosis, artinya bisa loncat dari hewan ke manusia. Pertama kali diidentifikasi tahun 1999 saat terjadi wabah di peternakan babi di Malaysia dan Singapura. Inang utamanya sebenarnya kelelawar buah, tapi virus ini juga bisa menginfeksi babi, anjing, hingga kambing.

Menurut otoritas kesehatan Inggris, manusia bisa tertular lewat kontak langsung dengan hewan yang sakit atau cairan tubuhnya. Tapi, banyak juga kasus infeksi pada manusia terjadi karena makan buah atau produk buah seperti nira kurma mentah yang sudah terkontaminasi air liur atau kotoran kelelawar buah yang terinfeksi.

Penularan dari sesama manusia juga mungkin terjadi, terutama lewat kontak dekat atau cairan tubuh penderita. Sampai saat ini, belum ada vaksin atau obat khusus untuk Nipah. Perawatan yang ada sifatnya suportif, cuma untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi. Gejalanya sendiri bisa parah, mulai dari demam dan muntah, sampai gangguan pernapasan dan saraf yang berbahaya.

Status Prioritas dari WHO

Karena potensinya menyebabkan wabah cepat dengan angka kematian tinggi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan Nipah ke dalam daftar penyakit prioritas. Pemerintah India kembali menekankan, dua kasus terkonfirmasi itu terjadi Desember lalu dan semuanya terlokalisir di Benggala Barat.

Di sisi lain, sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Singapura, Hong Kong, Thailand, dan Malaysia sudah bergerak dengan skrining di bandara. Tapi di balik kekhawatiran regional ini, para ahli justru punya pandangan berbeda. Mereka menilai risiko penyebaran global virus Nipah sebenarnya sangat terbatas.


Halaman:

Komentar