Targetnya sederhana: mencegah intensitas hujan melampaui batas normal. “Sehingga bencana hidrometeorologis dapat kita tekan,” jelas Faisal.
Secara angka, upaya ini bisa memotong intensitas hujan hingga sekitar 30 persen. Angka yang menurut Faisal cukup signifikan dampaknya.
“Jadi bayangkan nanti 30 persen kita kurangi, lalu yang diterima oleh daerah tangkapan hujan, oleh lahan yang ada di bawahnya, itu adalah sekitar 70 persen,” paparnya.
Di sisi lain, Faisal justru melihat persoalan krusialnya ada di tempat lain: di tanah yang menerima hujan itu sendiri. Permasalahan tata guna lahan, tuturnya, sering kali jadi pangkal masalah. Struktur dan kondisi lahan sekarang sudah jauh berbeda dibanding sepuluh tahun lalu.
“Lima tahun, 10 tahun sebelumnya dengan curah hujan seperti sekarang, itu lahannya masih oke gitu,” kenangnya.
Tapi kini, dengan perubahan tata guna lahan yang masif, pembangunan yang pesat, dan tekanan lingkungan yang makin berat, curah hujan yang sama pun bisa memicu bencana. Banjir dan tanah longsor jadi ancaman yang lebih nyata.
“Ini yang coba kita kendalikan melalui operasi modifikasi cuaca,” imbuhnya, menutup penjelasan.
Jadi, intinya BMKG mengakui keterbatasan teknologi menghadapi siklon, tetapi tetap berupaya memitigasi dampak terburuknya dari darat. Fokusnya bergeser dari mengandalkan langit, ke mengelola apa yang ada di bumi.
Artikel Terkait
Gempa 2,9 SR Guncang Cilacap, Getaran Lembut Terasa Malam Ini
Kaesang Yakin PSI Bisa Rebut Lebih dari Tiga Kursi di Sulsel
Starmer dan Xi Jinping Bertemu di Beijing, Upaya Cairkan Hubungan yang Membeku
Amran Sulaiman Masuk DEN, Pacu Biofuel dari Sawit hingga Singkong