Namun begitu, ia menyatakan tetap menghormati hak demonstrasi. Pramono bahkan bersikap terbuka jika massa buruh ingin menyampaikan aspirasinya langsung ke Balai Kota. "Kalau ada demo mampir di Balai Kota juga nggak apa-apa. Kan tadi demonya sebenarnya di Istana," ungkapnya dengan nada santai.
Di sisi lain, tuntutan buruh punya alasan yang kuat. Kuszairi, Sekretaris PC SPAMK FSPMI DKI Jakarta, menyuarakan kekecewaannya. Dalam orasinya, ia membeberkan soal kesenjangan antara upah yang ditetapkan dan kebutuhan hidup nyata.
Bagi Kuszairi, angka kenaikan UMP yang tak sebanding dengan melambungnya biaya hidup justru berisiko menurunkan daya beli pekerja. Ia menggambarkannya dengan istilah yang gamblang.
Jelas, di balik pernyataan "selesai" dari pemerintah, masih ada rasa belum puas yang mengendap. Aksi di jalan itu adalah buktinya. Mereka menunggu jawaban yang lebih konkret, bukan sekadar penegasan bahwa semua proses telah berakhir.
Artikel Terkait
Polisi Tembak dan Amankan Buronan OPM Pelaku Pembunuhan Danramil Aradide
KPK Ungkap Modus Baru Korupsi: OTT Tak Lagi Sederhana
KPK Periksa Enam Kades dan Ajudan Bupati Pati Terkait Pungli Rp 2,6 Miliar
Jelantah Bisa Ditukar Poin Belanja, Alfamart Pasang 100 Kotak Khusus