Namun begitu, ia menyatakan tetap menghormati hak demonstrasi. Pramono bahkan bersikap terbuka jika massa buruh ingin menyampaikan aspirasinya langsung ke Balai Kota. "Kalau ada demo mampir di Balai Kota juga nggak apa-apa. Kan tadi demonya sebenarnya di Istana," ungkapnya dengan nada santai.
Di sisi lain, tuntutan buruh punya alasan yang kuat. Kuszairi, Sekretaris PC SPAMK FSPMI DKI Jakarta, menyuarakan kekecewaannya. Dalam orasinya, ia membeberkan soal kesenjangan antara upah yang ditetapkan dan kebutuhan hidup nyata.
Bagi Kuszairi, angka kenaikan UMP yang tak sebanding dengan melambungnya biaya hidup justru berisiko menurunkan daya beli pekerja. Ia menggambarkannya dengan istilah yang gamblang.
Jelas, di balik pernyataan "selesai" dari pemerintah, masih ada rasa belum puas yang mengendap. Aksi di jalan itu adalah buktinya. Mereka menunggu jawaban yang lebih konkret, bukan sekadar penegasan bahwa semua proses telah berakhir.
Artikel Terkait
Wakil Ketua MPR: Defisit APBN Bisa Tembus 4%, Pemerintah Diminta Utamakan Daya Beli
Razia Gabungan di Cibinong Sita 600 Botol Miras yang Disembunyikan di Warung
Kapolda Riau Tinjau Akhir Kesiapan Jembatan di Kampar Jelang Peresmian Kapolri
Polda Sumsel Terapkan Pengantongan Truk dan Siagakan Tim Urai Macet untuk Amankan Mudik