Udara di Karawang terasa panas dan berdebu, Rabu siang itu. Tapi, ribuan petani yang hadir tampak antusias. Mereka berkumpul untuk sebuah momen bersejarah: panen raya sekaligus pengumuman resmi Swasembada Pangan 2025. Di tengah hamparan sawah yang menguning, Presiden Prabowo Subianto naik ke podium.
Suaranya lantang, terdengar jelas meski tanpa pengeras suara yang bagus. Ia tak hanya bicara soal keberhasilan panen. Prabowo justru memilih menyoroti sikap sejumlah orang di negeri ini. Menurutnya, ada elit politik yang kerjanya cuma satu: mengkritik. Tanpa pernah sekalipun memberi apresiasi untuk capaian bangsa.
"Ada elit kita sebagian yang kerjanya hanya ngejek, hujat, fitnah, nyinyir," ujar Prabowo, suaranya terdengar tegas.
Ia melanjutkan, dengan nada yang lebih tinggi, "Gak ada keberhasilan bangsa Indonesia yang mereka akui. Atlet-atlet kita berjuang, gak ada mereka ucapkan selamat. Gak ada mereka menghargai usaha pemerintah."
Bagi Prabowo, sikap seperti itu terasa janggal. Sangat janggal. Sampai-sampai timbul kecurigaan dalam benaknya. "Ini aneh ya. Aneh ini kesehatan jiwa itu agak aneh tapi biarlah gak ada urusan," selorohnya, disambut tawa hadirin. Tapi kemudian ia serius. "Mereka pinter hanya di sosmed, gak jelas juga itu. Jangan-jangan mereka dibayar."
Kecurigaan itu bukan datang tiba-tiba. Prabowo lalu bercerita tentang keraguan yang sempat menghantui program swasembada ini. Sebelumnya, banyak tokoh penting yang meragukan kemampuan Indonesia. Mereka bilang hal itu mustahil.
Artikel Terkait
PKS di Persimpangan: Ikut Arus Kekuasaan atau Teguh pada Prinsip?
Ahok Bongkar Motif di Balik Wacana Pilkada Lewat DPRD: Ini Pasar Gelap Politik!
Retret di Hambalang: Prabowo Kumpulkan Menteri, Bukan Cuma untuk Evaluasi
Hensat Soroti Retret Kabinet: Evaluasi dan Uji Loyalitas Jelang 2026