Di Tengah Sorak Petani Karawang, Prabowo Sindir Elit yang Kerjanya Cuma Ngejek

- Rabu, 07 Januari 2026 | 15:50 WIB
Di Tengah Sorak Petani Karawang, Prabowo Sindir Elit yang Kerjanya Cuma Ngejek
Pidato Prabowo di Karawang

Udara di Karawang terasa panas dan berdebu, Rabu siang itu. Tapi, ribuan petani yang hadir tampak antusias. Mereka berkumpul untuk sebuah momen bersejarah: panen raya sekaligus pengumuman resmi Swasembada Pangan 2025. Di tengah hamparan sawah yang menguning, Presiden Prabowo Subianto naik ke podium.

Suaranya lantang, terdengar jelas meski tanpa pengeras suara yang bagus. Ia tak hanya bicara soal keberhasilan panen. Prabowo justru memilih menyoroti sikap sejumlah orang di negeri ini. Menurutnya, ada elit politik yang kerjanya cuma satu: mengkritik. Tanpa pernah sekalipun memberi apresiasi untuk capaian bangsa.

"Ada elit kita sebagian yang kerjanya hanya ngejek, hujat, fitnah, nyinyir," ujar Prabowo, suaranya terdengar tegas.

Ia melanjutkan, dengan nada yang lebih tinggi, "Gak ada keberhasilan bangsa Indonesia yang mereka akui. Atlet-atlet kita berjuang, gak ada mereka ucapkan selamat. Gak ada mereka menghargai usaha pemerintah."

Bagi Prabowo, sikap seperti itu terasa janggal. Sangat janggal. Sampai-sampai timbul kecurigaan dalam benaknya. "Ini aneh ya. Aneh ini kesehatan jiwa itu agak aneh tapi biarlah gak ada urusan," selorohnya, disambut tawa hadirin. Tapi kemudian ia serius. "Mereka pinter hanya di sosmed, gak jelas juga itu. Jangan-jangan mereka dibayar."

Kecurigaan itu bukan datang tiba-tiba. Prabowo lalu bercerita tentang keraguan yang sempat menghantui program swasembada ini. Sebelumnya, banyak tokoh penting yang meragukan kemampuan Indonesia. Mereka bilang hal itu mustahil.

“Banyak tokoh penting bilang ke saya beberapa bulan lalu, ‘Pak Bowo, nda mungkin swasembada Indonesia itu’. Sungguh ini ngomong ke saya, tidak mungkin swasembada,” tegasnya, menirukan suara para peragu itu.

Namun begitu, keraguan itu kini pupus. Di Karawang hari itu, ia secara resmi mengumumkan keberhasilan swasembada beras, diraih hanya dalam waktu satu tahun. Sebuah capaian yang, bagi banyak orang, memang terdengar seperti mimpi.

Tapi Prabowo tahu. Ia yakin, kritik dan nyinyiran tak serta merta berhenti. Justru akan berubah bentuk. "Sekarang setelah kita swasembada pangan, oh ya tapi paling swasembada pangannya paling setahun dua tahun," ujarnya, menyindir kemungkinan komentar selanjutnya.

Untuk menjawab semua itu, ia punya satu komitmen. Tak hanya beras, Indonesia akan membuktikan diri. Tahun demi tahun. "Kita buktikan tiap tahun kita buktikan swasembada swasembada swasembada," tekannya, dengan semangat yang terpancar jelas. "Tidak hanya swasembada beras, jagung, singkong, semuanya kita swasembada."

Panen raya itu pun ditutup dengan harapan. Sebuah harapan yang kini tak lagi terasa sebagai angan-angan, tapi sebuah janji yang sedang diupayakan. Di tengah sorak-sorai petani Karawang, Prabowo turun dari podium. Debu sawah masih beterbangan, membawa kabar bahwa satu target telah tercapai. Tantangan selanjutnya tinggal menunggu waktu.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar