Dana IPO RLCO Baru Tersentuh 10%, Mayoritas Masih Mengendap di Giro

- Kamis, 15 Januari 2026 | 10:50 WIB
Dana IPO RLCO Baru Tersentuh 10%, Mayoritas Masih Mengendap di Giro

PT Abadi Lestari Indonesia, atau RLCO, baru saja memakai sebagian dana IPO-nya. Tercatat per akhir Desember 2025, perusahaan yang bergerak di bisnis sarang walet ini telah menggunakan dana segar sebesar Rp10 miliar. Angka itu masih relatif kecil, lho, cuma sekitar 9,52% dari total Rp105 miliar yang berhasil dihimpun dari pasar modal.

Nah, sisa dananya yang masih cukup besar, yakni Rp90,23 miliar, untuk sementara diendapkan di giro. Menurut keterangan yang beredar di BEI, giro itu memberikan bunga 1,5% per tahun.

Lantas, buat apa saja dana IPO yang nilainya ratusan miliar itu rencananya akan dipakai? Rupanya, sebagian besar tepatnya Rp56,46 miliar disiapkan untuk modal kerja. Sisanya, sekitar Rp43,77 miliar, akan disuntikkan ke anak perusahaannya, PT Realfood Winta Asia. Alokasi ini sejalan dengan rencana awal saat mereka melantai di BEI.

Sebagai catatan, RLCO resmi menjadi perusahaan publik pada 8 Desember 2025 lalu. Sahamnya langsung melesat saat perdagangan perdana. Dibuka di harga Rp226 per lembar, saham RLCO langsung naik tajam 34,52% dari harga penawaran awalnya yang cuma Rp168. Sukses di hari pertama.

Kalau dirinci lebih detail, setelah dipotong biaya emisi sekitar Rp4,76 miliar, alokasi dana IPO itu intinya untuk dua hal. Sekitar 56% akan dipakai perusahaan induk buat beli bahan baku sarang burung walet. Sementara itu, 43% sisanya akan mengalir ke PT Realfood Winta Asia, juga untuk keperluan yang sama: pembelian bahan baku.

Di sisi lain, kinerja operasional RLCO sepanjang lima bulan pertama 2025 ternyata cukup solid. Mereka berhasil membukukan penjualan senilai Rp231,3 miliar. Angka itu melonjak 47,56% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang impresif.

Laba mereka juga ikut meroket. Peningkatannya signifikan, didorong oleh volume ekspor yang naik dan jaringan distribusi di dalam negeri yang makin melebar.

(Dhera Arizona)

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar