Dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR di Senayan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membeberkan sejumlah upaya transformasi di tubuh Polri. Fokusnya? Pelayanan kepada masyarakat. Salah satu contoh konkret yang dia sodorkan adalah perubahan pendekatan dalam mengamankan aksi demonstrasi atau unjuk rasa.
"Soal transformasi pelayanan untuk penyampaian pendapat di muka umum, kami terus berupaya memperbaikinya," ujar Sigit, Senin (26/1/2026).
Menurutnya, ada banyak perbaikan yang digulirkan. Intinya, mengubah cara pandang sepenuhnya.
"Kami mendorong berbagai perbaikan. Salah satunya ya paradigma pelayanan itu sendiri," tegasnya.
Dulu, paradigma yang dipakai adalah 'menghadapi' massa. Sekarang, kata Sigit, semuanya diubah menjadi 'melayani'. Tindakan preemtif dan preventif diutamakan jauh sebelum aksi berlangsung. Dengan begitu, potensi eskalasi bisa diredam dari hulu.
Di sisi lain, akuntabilitas juga ditingkatkan. Personel di lapangan kini dilengkapi body camera untuk memastikan transparansi. Tindakan tegas, menurut Sigit, baru akan diambil jika situasi benar-benar memanas dan terjadi kerusuhan. Itu pun harus terukur.
"Kami mengoptimalkan peran negosiator. Mindset aparat berubah dari pelaksana kekuasaan menjadi pelayan publik. Dari yang awalnya power based, kini kami dorong ke arah trust based, berbasis kepercayaan," paparnya.
Harapannya jelas: tercipta suasana baru yang lebih kondusif. Sebuah iklim di mana hak menyampaikan pendapat bisa berjalan, sementara keamanan dan ketertiban tetap terjaga. Perubahan ini, meski tak instan, diyakini akan membawa angin segar.
Artikel Terkait
Media Sosial Jadi Cermin Kepribadian: Pengguna Aktif Membaca tapi Jarang Posting Ternyata Punya Karakter Khas
Polda Metro Minta Maaf atas Rekayasa Lalu Lintas Akibat Demo Mahasiswa
Pemerintah Kota Makassar Resmi Operasikan Pete-pete Laut Gratis untuk Warga Kepulauan Sangkarrang
Pelaku Pelecehan Anjing di Kafe Penjaringan Jalani Pemeriksaan Kejiwaan