Tim Gabungan Terus Berburu Waktu, 65 Korban Longsor Bandung Barat Masih Hilang

- Senin, 26 Januari 2026 | 08:10 WIB
Tim Gabungan Terus Berburu Waktu, 65 Korban Longsor Bandung Barat Masih Hilang

Operasi pencarian di Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Bandung Barat, masih terus berlangsung. Tim gabungan tak henti menyisir puing dan lumpur, berharap menemukan mereka yang masih hilang.

Hingga pukul lima sore Minggu kemarin, angka korban yang berhasil dievakuasi bertambah. Tim DVI Polda Jabar di posko Puskesmas setempat telah menerima 25 kantong jenazah. Empat belas di antaranya berhasil dievakuasi hanya dalam sehari.

Dari total 113 orang yang terdampak, 23 dinyatakan selamat. Namun, suasana haru masih menyelimuti lokasi karena 65 orang lainnya masih belum ditemukan sejak tanah itu bergerak pada Sabtu.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menjelaskan situasi terkini.

"Kita sinkronisasi data dengan tim di lapangan. Sampai jam 17.00, kantong jenazah yang dikirim ke posko ada 25 kantong," ujarnya.

Di sisi lain, proses identifikasi pelan-pelan mulai membuahkan hasil. Tim DVI sendiri sudah berhasil mengidentifikasi 11 jenazah. Sepuluh di antaranya dalam kondisi utuh, sementara satu korban lain, M. Kori (30), teridentifikasi dari potongan tubuh berupa tangan.

Adapun nama-nama yang telah dikenali adalah Suryana (57), Jajang Tarta (35), Dadang Apung (60), Nining (40), Nurhayati (42), Lina Lismayanti (43), A.I. Sumarni (35), Koswara (40), Koswara (26), dan Ayu Yuniarti (31).

"Tim DVI sudah berhasil mengidentifikasi 11 orang. Sisanya kita akan melakukan kegiatan post mortem di pos DVI ini," kata Hendra.

Medan Sulit, Pencarian Dilakukan dari Segala Arah

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, memaparkan bahwa pencarian sudah dipetakan dengan cermat. Assessment dilakukan dari mahkota hingga lidah longsoran, lalu wilayah dibagi menjadi beberapa sektor.

Kekuatan personel tak main-main. Lebih dari 250 personel terlatih dikerahkan, ditambah sekitar 450 orang sebagai pendukung operasi.

"Saat ini yang sudah tergabung dalam tim SAR adalah lebih dari 250 personel terlatih, dan untuk tim operasi pendukung ada sekitar 450 personel," jelas Syafii.

Mereka memanfaatkan segala cara. Dari udara, 12 drone diterbangkan. Di darat, personel dan alat berat dikerahkan, meski medan yang berupa bubur pasir masih sangat rawan dan menyulitkan.

"Alat berat belum dipastikan sepenuhnya bisa digunakan karena kondisi medan... yang masih sangat rawan," imbuhnya.

Faktor cuaca jadi perhatian serius. Bahkan modifikasi cuaca telah dilakukan bersama BNPB agar langit bersahabat. Bantuan anjing pelacak (K9) dari Polri dan TNI juga turun membantu menyisir lokasi.

Wacana Relokasi Jangka Panjang Mulai Digaungkan

Di lokasi terpisah, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menekankan dua hal. Pertama, evakuasi harus maksimal. Kedua, rencana relokasi warga harus segera disiapkan.

"Yang pertama jangka pendek dulu, semaksimal mungkin untuk mencari korban yang hilang, dibantu keluarganya. Yang direlokasi juga sudah dibantu saya lihat, dari gubernur, bupati, dan lain-lain," kata Tito.
"Kemudian jangka panjang mereka harus direlokasi, dapat tempat yang baik, aman, kerjaan mereka dibantu," tegasnya.

Menurut Tito, kawasan bencana itu sudah tidak layak huni. Dia menyarankan agar lahan tersebut direboisasi dengan tanaman keras untuk menguatkan tanah. Wilayah dengan karakter tanah gembur dan subur seperti itu, meski baik untuk tanaman, ternyata sangat rawan untuk pondasi bangunan.

Ini jadi pelajaran pahit bagi banyak daerah. Pemetaan kawasan rawan bencana hidrometeorologi, kata Tito, harus diperkuat.

Mencari Titik Aman untuk Tempat Tinggal Baru

Longsor yang meratakan 30 rumah itu memang memaksa pemerintah bergerak cepat. Selain hunian sementara, skema relokasi jadi opsi utama.

Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyebut ada dua opsi penampungan sementara: hunian darurat atau menitipkan warga ke sanak saudara. Namun untuk jangka panjang, relokasi adalah jawabannya, baik secara terpusat maupun mandiri.

"Badan Geologi dan PVMBG dilibatkan untuk mengkaji serta menentukan titik wilayah yang aman untuk dihuni," ujar Suharyanto.

Yang menarik, relokasi tak hanya untuk korban langsung. Warga di kawasan rawan lainnya yang belum terdampak pun akan dipindahkan demi keamanan. Ada pesan khusus dari Wakil Presiden agar pemilihan lokasi baru dilakukan dengan sangat hati-hati. Jangan sampai salah pilih dan malah membawa musibah baru di masa depan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar