Lewat akun X-nya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baru-baru ini menyuarakan kegelisahan yang dalam. Mantan Presiden RI itu merasa cemas. Dinamika geopolitik global beberapa bulan terakhir, menurut pengamatannya, mengarah pada sebuah titik yang mengkhawatirkan. Bahkan, ia menyebut kemungkinan munculnya "prahara besar" istilah yang ia gunakan untuk Perang Dunia Ketiga.
Pernyataan resminya itu dibagikan pada Selasa, 20 Januari 2026. SBY tak cuma berhenti pada kekhawatiran. Ia secara khusus meminta PBB untuk turun tangan, mengajak para pemimpin global agar segera mengambil langkah pencegahan.
Dalam unggahannya, SBY membuka dengan menceritakan latar belakangnya. Puluhan tahun ia mencermati dan mendalami seluk-beluk geopolitik dunia, perdamaian internasional, hingga sejarah peperangan.
"Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini. Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,"
Menurutnya, kemungkinan itu sangat nyata. Pola yang terlihat belakangan ini, bagi SBY, punya banyak kemiripan dengan situasi jelang dua perang dunia sebelumnya. Ada pemimpin-pemimpin kuat dengan ambisi militer, persekutuan negara yang saling berhadap-hadapan, dan perlombaan senjata yang masif. Geopolitik dunia, katanya, terasa benar-benar panas.
"Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini,"
Ia melanjutkan dengan nada pesimistis yang halus. Sejarah, ujarnya, sering berulang. Meski tanda-tanda bahaya sudah jelas, kesadaran kolektif untuk mencegah malah seringkali terlambat atau bahkan tidak datang sama sekali.
Di sisi lain, SBY mengaku berharap analisisnya meleset. Tapi ia menekankan, berharap dan berdoa saja tidak akan cukup. Ia mengingatkan skala kehancuran yang bisa terjadi korban jiwa yang mencapai miliaran, hingga runtuhnya peradaban.
"Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia. Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya,"
Peringatannya jelas: mencegah bencana itu memerlukan aksi nyata dari semua pihak, bukan sekadar harapan. Suaranya terdengar seperti sirene peringatan di tengah hiruk-pikuk politik global yang semakin memanas.
Artikel Terkait
PAN Nilai Wacana Pembatasan Masa Jabatan Ketua Umum Parpol Melanggar Kebebasan Berserikat
Pemerintah Luncurkan Program Bedah 15.000 Rumah di 40 Kawasan Perbatasan
Menteri Fadli Zon Dorong Kemitraan Strategis Budaya Indonesia-Prancis, Tindak Lanjuti Borobudur Declaration
Harga Buyback Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian Kompak Turun