"Sebenarnya ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, paprika, itu semua di daerah subtropis," katanya.
Ia menjelaskan, tanaman-tanaman subtropis itu biasa hidup di ketinggian 800-2.000 meter. Sementara karakter wilayah lokal sebenarnya berbeda. "Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu. Tahun 2025 dulu tidak semasif ini, sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini," jelasnya.
Untuk memastikan semuanya berjalan mulus, tim ahli akan berkoordinasi penuh dengan pemerintah kabupaten setempat. Mereka bakal turun langsung, memeriksa setiap jengkal tanah dengan detil.
"Kita akan melakukan pendalaman sangat detil terhadap landscape ini, dan kemudian akan dilakukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut," tutur Hanif.
Proses ini butuh waktu. Ia memperkirakan kajian mendalam bersama para ahli dari akademisi dan badan riset akan memakan waktu satu hingga dua minggu. Setelah itu, barulah langkah konkret penanganan bisa benar-benar dimulai.
Artikel Terkait
Prancis Tolak Intervensi Militer AS, Serukan Dukungan untuk Rakyat Iran
Empat Anak Diamankan Usai Lempar Batu Hancurkan Kaca Kereta Jayakarta Premium
Warga dengan Gangguan Jiwa Terseret Arus Irigasi di Tengah Pembagian Sembako
22 Unit Damkar Dikerahkan Atasi Kobaran Api di Rumah Tebet