Di bagian lain puisinya, Rafi yang masih kecil itu berjanji akan menjadi anak yang sholeh. Janji yang paling mengharukan adalah tekadnya untuk menjaga sang ibunda dan menyayangi adiknya, Radin.
Penutup puisinya jujur dan polos. Rafi menjelaskan bahwa tangisnya bukanlah bentuk kemarahan pada takdir. Tidak sama sekali.
Ferry Irawan, sang ayah, diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ia menjadi salah satu korban dalam musibah penerbangan tragis di Maros itu. Upacara penghormatan itu bukan sekadar prosesi resmi. Melalui puisi Rafi, kita menyaksikan sebuah fragmen kepedihan yang sangat manusiawi, sekaligus kekuatan sebuah janji dari seorang anak kepada ayahnya yang telah pergi.
Artikel Terkait
Pemilu Myanmar Usai, Kemenangan Telak Dirayakan Junta di Tengah Kontroversi
Gus Ipul Soroti Data sebagai Kunci Pemberdayaan Disabilitas di HUT Pertuni
Polisi Imbau Publik Jaga Empati, Data Pribadi Lula Lahfah Jangan Disebar
Misteri Kematian Lula Lahfah: Polisi Tunggu Kunci Jawaban dari Laboratorium