Suasana hening menyelimuti Auditorium Madidihang di Jakarta Selatan, Minggu lalu. Di tengah upacara penghormatan bagi tiga korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, seorang anak lelaki maju ke depan. Dialah Rafi Pratama Irawan, yang dengan berani membacakan sebuah puisi untuk ayahnya, Ferry Irawan.
Rafi, ditemani pamannya Muhammad Ahmad, tampak mengenakan gamis dan peci. Suaranya mungkin masih terdengar lirih, tapi setiap kata yang diucapkannya terasa sangat dalam. Puisi itu ia beri judul "Selamat Jalan Papahku Tercinta".
Isinya sederhana, namun menyentuh siapa saja yang mendengarnya. Rafi mengungkapkan keikhlasan hatinya, meski air mata rasanya ingin jatuh. Ia percaya kepergian ayahnya adalah takdir terbaik dari Allah.
Artikel Terkait
Pemilu Myanmar Usai, Kemenangan Telak Dirayakan Junta di Tengah Kontroversi
Gus Ipul Soroti Data sebagai Kunci Pemberdayaan Disabilitas di HUT Pertuni
Polisi Imbau Publik Jaga Empati, Data Pribadi Lula Lahfah Jangan Disebar
Misteri Kematian Lula Lahfah: Polisi Tunggu Kunci Jawaban dari Laboratorium