Program Makan Bergizi Gratis di SMAN 1 Cigemblong, Lebak, kembali jadi perhatian. Kali ini, bukan cuma soal kebersihan, tapi kesiapan bahan makanannya. Bagaimana tidak, telur dan jagung yang dibagikan ke siswa ternyata masih dalam keadaan mentah.
Seorang guru dengan nada kesal merekam kejadian itu. Dalam video yang beredar, terlihat sebuah wadah berisi lengkeng, susu, dan tahu. Tapi fokus utamanya lain: si guru memecahkan telur mentah dan menunjukkan potongan jagung yang sama sekali belum dimasak.
"Makanan MBG di SMA 1 Cigemblong kondisi MBG-nya tidak layak. Telurnya masih mentah, jagungnya juga mentah. Masa siswa harus memasak sendiri? Di sekolah dari mana kompor untuk memasak?"
Pepi Habibi, Wakil Kepala Sekolah, membenarkan insiden memalukan itu terjadi Jumat lalu. Menurutnya, sekitar 100 porsi dari total 227 siswa penerima manfaat hari itu bermasalah.
Ini bukan kali pertama. Sejak program MBG berjalan di sekolahnya, Pepi mengaku sudah beberapa kali menemukan kejanggalan. Catatan buruk itu beruntun. Tanggal 12 Januari lalu, misalnya, ditemukan belatung di sayuran dan buah melon yang berlendir.
"Pertama ditemukan belatung pada sayuran, kedua buah melon yang dibagikan sudah berlendir, ketiga telur mentah. Ini berulang," ungkapnya, jelas frustrasi.
Lantas, siapa yang bertanggung jawab?
Pihak SPPG dari Yayasan Amanah Permas Agung akhirnya angkat bicara. Rasudin, Kepala SPPG, mengakui ada kelalaian. Sekitar 15 kilogram telur mentah ternyata terkirim ke sekolah.
"Sekitar 15 kilogram," katanya.
Dia menegaskan ini bukan kesengajaan. Ceritanya, posisi telur mentah dan matang di dapur berdekatan. Saat proses pengemasan berlangsung cepat, keduanya tercampur. "Ini bukan unsur kesengajaan, melainkan kelalaian dalam proses kerja," jelas Rasudin.
Sebagai langkah perbaikan, dia berjanji akan memperketat pengawasan. Kedisiplinan petugas dapur, terutama soal standar kebersihan dan keamanan pangan, harus ditingkatkan.
"Setiap tahapan harus dicek berulang kali. Kalau semua dijalankan sesuai prosedur, kejadian seperti ini bisa dihindari," pungkasnya.
Namun begitu, janji perbaikan itu tentu harus dibuktikan. Para orang tua dan siswa pasti berharap kejadian telur mentah atau sayur berbelatung ini yang terakhir. Mereka butuh kepastian, bukan sekadar penjelasan.
Artikel Terkait
SKK Migas Setujui POD Lapangan Ronggolawe, Target Produksi 5.126 BOPD pada 2029
Presiden Prabowo Koreksi Kepemimpinan BGN Usai Deretan Skandal Program Makan Bergizi Gratis
Pertumbuhan Ekonomi Pekanbaru Triwulan I 2026 Tembus 8 Persen, Didorong Belanja Pemerintah yang Melonjak 20 Persen
Ketua Ombudsman Hery Susanto Resmi Ditahan Kejagung Tersangka Suap Nikel Rp4,8 Miliar