Renovasi Rp 28 Miliar, Siswa SMPN 3 Depok Malah Bawa Meja Lipat dari Rumah

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:15 WIB
Renovasi Rp 28 Miliar, Siswa SMPN 3 Depok Malah Bawa Meja Lipat dari Rumah

Heboh, itu kata yang tepat. SMPN 3 Depok baru saja menghabiskan anggaran renovasi fantastis, Rp 28 miliar. Tapi, ada yang janggal. Belasan ruang kelas di sana ternyata kosong melompong, tanpa meja atau kursi untuk siswa. Alhasil, para pelajar terpaksa membawa sendiri meja lipat dari rumah mereka ke sekolah.

Momen itu pun ramai beredar di media sosial. Dalam video yang viral, terlihat sejumlah siswa-siswi dengan setia menenteng meja lipat berukuran sekitar 50 cm. Mereka berjalan menuju sekolah yang seharusnya sudah menyediakan fasilitas dasar itu.

Menurut sejumlah saksi, pemandangan seperti ini sudah berlangsung beberapa waktu. detikcom kemudian menyambangi lokasi sekolah di Jalan Barito Raya, Sukmajaya, dan mengonfirmasi kejadian tersebut.

Lantas, apa penjelasan pihak sekolah?

Nur, juru bicara SMPN 3 Depok, tak menampik masalah ini. Ia mengakui memang ada kekurangan perabot untuk belajar. Namun begitu, ada cerita di baliknya.

"Dulu, kami satu dengan SMPN 33. Nah, sekarang kan kita sudah misah," ujar Nur.

"Sebagian kursi itu memang milik SMP 33, jadi dibawa kembali. Ya, kondisinya jadi kurang. Tapi ini sudah atas kesepakatan dengan orang tua, mereka membuat pernyataan tertulis," lanjutnya mencoba memberi konteks.

Angkanya cukup mencengangkan. Dari total 33 kelas yang ada, sebanyak 17 ruangan mengalami kekurangan furnitur. Bayangkan, sekitar 612 siswa masih harus mengandalkan meja lipat pribadi mereka setiap hari.

Nur menambahkan penjelasan yang terdengar seperti sebuah dilema logistik.

"Kalau kita ada 33 kelas, yang terisi penuh baru 16. Sekalipun kita coba bagi dua sesi pembelajaran, ya tetap nggak bakal cukup. Masih kurang," jelasnya.

Jadi, di tengah gedung yang direnovasi dengan dana miliaran, realitas di lapangan justru terasa ironis. Para siswa masih berjuang dengan meja lipat mereka, sambil menunggu janji kelengkapan yang seharusnya sudah ada sejak awal.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar