Parlemen Jepang resmi dibubarkan pada Jumat (23/1) waktu setempat. Langkah ini diambil oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang kini mengarahkan pandangannya pada pemilihan umum mendatang. Pemilu itu sendiri sudah dijadwalkan bakal digelar pada 8 Februari.
Niat Takaichi sebenarnya sudah terendus sejak Senin lalu. PM wanita pertama Jepang itu bertekad mencari dukungan publik lebih luas. Targetnya jelas: meredam dampak kenaikan biaya hidup yang memberatkan rumah tangga dan, di sisi lain, mendongkrak anggaran pertahanan.
Proses pembubaran berlangsung cukup formal. Ketua parlemen membacakan surat resmi dari Takaichi di hadapan para anggota. Begitu surat selesai dibacakan, ruangan langsung riuh oleh teriakan "banzai!" seruan tradisional yang kerap mewarnai momen-momen penting politik Negeri Sakura.
Namun begitu, jalan menuju pemilu Februari nanti tak akan mulus. Koalisi pemerintah, yang terdiri dari Partai Liberal Demokratik (LDP) pimpinan Takaichi dan Partai Inovasi Jepang (JIP), cuma punya pijakan tipis di majelis rendah. Mayoritas mereka sangat rapuh.
Artikel Terkait
Pramono Anung Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca hingga 2026, Banjir Jakarta Tetap Mengancam
Bareskrim Periksa 18 Pejabat DSI dalam Kasus Dugaan Penipuan Investasi
Jakarta Tenggelam: 121 RT dan 16 Ruas Jalan Masih Terendam Banjir
Tiga Warga Terluka Akibat Pohon Tumbang Diterjang Hujan Deras di Senen