Strategi Takaichi sebetulnya sederhana. Dia mengandalkan angka jajak pendapat yang cukup tinggi untuk kabinetnya sebagai modal. Dia berharap popularitas pribadinya bisa menarik suara dan memberi mandat lebih kuat, meski partainya sendiri, LDP, sedang terpuruk. Popularitas LDP anjlok akibat sederet skandal dan ketidakpuasan publik.
Tapi apakah rencana itu akan berjalan mulus? Banyak yang meragukannya.
“Belum jelas apakah dukungan publik yang tinggi untuk kabinet Takaichi akan benar-benar mengarah pada dukungan untuk LDP,” ujar Hidehiro Yamamoto, seorang profesor Ilmu Politik dari Universitas Tsukuba.
Pernyataannya itu, seperti dilansir AFP, menyiratkan kerumitan situasi. Dukungan untuk seorang pemimpin belum tentu lantas berpindah ke partai yang dia pimpin, apalagi jika partai itu punya catatan buruk di mata pemilih. Pemilu Februari nanti, dengan kata lain, akan menjadi ujian nyata bagi taktik Takaichi dan mungkin titik balik bagi politik Jepang.
Artikel Terkait
Pramono Anung Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca hingga 2026, Banjir Jakarta Tetap Mengancam
Bareskrim Periksa 18 Pejabat DSI dalam Kasus Dugaan Penipuan Investasi
Jakarta Tenggelam: 121 RT dan 16 Ruas Jalan Masih Terendam Banjir
Tiga Warga Terluka Akibat Pohon Tumbang Diterjang Hujan Deras di Senen