Strategi Takaichi sebetulnya sederhana. Dia mengandalkan angka jajak pendapat yang cukup tinggi untuk kabinetnya sebagai modal. Dia berharap popularitas pribadinya bisa menarik suara dan memberi mandat lebih kuat, meski partainya sendiri, LDP, sedang terpuruk. Popularitas LDP anjlok akibat sederet skandal dan ketidakpuasan publik.
Tapi apakah rencana itu akan berjalan mulus? Banyak yang meragukannya.
“Belum jelas apakah dukungan publik yang tinggi untuk kabinet Takaichi akan benar-benar mengarah pada dukungan untuk LDP,” ujar Hidehiro Yamamoto, seorang profesor Ilmu Politik dari Universitas Tsukuba.
Pernyataannya itu, seperti dilansir AFP, menyiratkan kerumitan situasi. Dukungan untuk seorang pemimpin belum tentu lantas berpindah ke partai yang dia pimpin, apalagi jika partai itu punya catatan buruk di mata pemilih. Pemilu Februari nanti, dengan kata lain, akan menjadi ujian nyata bagi taktik Takaichi dan mungkin titik balik bagi politik Jepang.
Artikel Terkait
Depok Liburkan CFD Dua Minggu Sambut Idulfitri
Harga Emas Antam di Pegadaian Turun Rp25.000 per Gram
TNI Hidupkan Kembali Jabatan Kepala Staf Teritorial Setelah 25 Tahun
Persib Hadapi Ujian Berat di Markas Borneo FC dalam Laga Tunda Super League