Israel Serbu dan Hancurkan Markas UNRWA di Yerusalem, PBB Kecam Pelanggaran Berat

- Rabu, 21 Januari 2026 | 05:45 WIB
Israel Serbu dan Hancurkan Markas UNRWA di Yerusalem, PBB Kecam Pelanggaran Berat
Artikel Ditulis Ulang

Suasana pagi di kompleks UNRWA di Yerusalem Timur tiba-tiba berubah ricuh. Pasukan Israel bergerak masuk, diikuti oleh deru mesin buldoser yang tak lama kemudian mulai menghancurkan bangunan-bangunan di markas besar badan PBB untuk pengungsi Palestina itu. Tindakan ini langsung memantik kecaman keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Menurut sejumlah saksi, serbuan itu terjadi tak lama setelah pukul tujuh pagi waktu setempat, Selasa (20/1). Jonathan Fowler, juru bicara UNRWA, menyebut pasukan Israel "menyerbu" lokasi. Para penjaga keamanan lebih dulu diusir, katanya, sebelum alat-alat berat itu mulai bekerja merobohkan dinding demi dinding.

"Ini serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya," tegas Fowler dalam pernyataannya. Ia menegaskan aksi tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan hak kekebalan yang dimiliki PBB. Fowler juga mengingatkan, apa yang terjadi pada UNRWA hari ini berpotensi menimpa organisasi internasional atau misi diplomatik lain di mana pun besok.

Foto-foto yang beredar memperlihatkan situasi yang cukup gamblang. Beberapa alat berat terlihat aktif bekerja di antara puing, dengan bendera Israel berkibar di atas reruntuhan. Seorang fotografer di lokasi bahkan melaporkan adanya kunjungan singkat Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir.

"Ini adalah hari bersejarah, hari perayaan, dan hari yang sangat penting bagi pemerintahan di Yerusalem," ujar Ben Gvir.

"Selama bertahun-tahun, para pendukung terorisme ini berada di sini. Hari ini mereka disingkirkan. Inilah yang akan terjadi pada setiap pendukung terorisme," tambahnya tanpa tedeng aling-aling.

Namun begitu, dari markas PBB di New York, respons datang dengan nada sangat berbeda. Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mendesak Israel agar segera menghentikan pembongkaran itu. Melalui juru bicaranya, Farhan Haq, Guterres menegaskan kompleks UNRWA di Sheikh Jarrah adalah wilayah yang kebal dan tak bisa diganggu-gugat.

"Sekretaris Jenderal mendesak pemerintah Israel untuk segera menghentikan pembongkaran, dan untuk mengembalikan serta memulihkan kompleks tersebut kepada PBB tanpa penundaan," kata Haq kepada para wartawan.

Latar belakang ketegangan ini, seperti sering disuarakan Israel, adalah tuduhan bahwa UNRWA memberi perlindungan kepada militan Hamas. Israel berulang kali menuding beberapa staf agensi PBB itu terlibat dalam serangan 7 Oktober lalu yang memicu perang di Gaza. Tuduhan yang selalu dibantah keras oleh UNRWA.

Kini, di tengah reruntuhan di Yerusalem Timur, yang tersisa adalah ketegangan diplomatik yang makin memanas dan pertanyaan tentang seberapa jauh kekebalan lembaga internasional benar-benar dihormati.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar